Analisis Politik: Internasional, Indonesia, Tanah Papua

- Oleh Hans Gebze

Cerita Pertama: Pertemuan Aktivis Papua Merdeka dengan Jenderal Purnawirawan IRA (Irlandia Utara)

Pada suatu ketika seorang aktivis Papua Merdeka melakukan perjalanan politiknya keliling benua Eropa. Dalam perjalanan politik itu ia singgah di Irlandia. Ditemuilah beberapa aktivis IRA [Irish Repuplican Army], sebuah organisasi sayap militer gerakan Irlandia Merdeka. Tentu maksudnya adalah untuk membagi pengalaman perjuangan Bangsa Melanesia di Papua Barat kepada kawan-kawan Irlandia-nya itu dengan harapan mereka juga membagi pengalaman yang sama. Selang beberapa waktu ia diantar oleh seorang kawan Irlandia-nya menemui tokoh gerakan IRA berpangkat jendral di kota tersebut.

Dalam diskusi dengan Sang Jendral, kurang lebih satu jam pertemuan, sang jendral banyak mebicarakan politik praktis dengan aktivis Papua Merdeka yang menemuinya, diakhir cerita Sang Jendral mendekatkan dirinya dengan tokoh kita tadi dan sambil duduk disamping aktivis Papua Merdeka ini Sang Jendral menarik lengan bajunya dan mendekatkan dengan tangan aktivis Papua Merdeka tadi lalu terjadilah dialog berikut;

Sang Jendral: “Anak muda, coba lihat warna kulit kita…” Aktivis Papua Merdeka tersebut diam dan mengamati warna kulit, semula ia mengira hanyalah sebuah pertanyaan biasa, dan dalam kebisuan sesaat itu. Sang Jendral kembali berkata:

“Anak muda, inilah yang saya maksud, kulit saya berwarna putih dan kulit Anda hitam…Peradaban dunia ini dibangun oleh prasangka rasialis yang kental dan itu membekas dalam semua memori politik dan tindakan para politisi dunia hari ini…”

Tentu ini pernyataan bombastis dari orang tua Irlandia tadi, betapa tidak, ini tentu mengherankan, sang jendral Irlandia tadi jelas berkulit putih dan aktivis Papua Merdeka ini memiliki kulit hitam.

Sang aktivis masih terdiam memikirkan dan merenungi pernyataan tadi, berkata pula Sang Jendral

“Anak muda, sebagai orang Irlandia, saya dan semua tokoh gerakan kemerdekaan Irlandia tidak pernah datang ke Afrika atau berniat mengunjungi negara-negara Melanesia untuk meminta dukungan mereka bagi kemerdekaan Irlandia…Sebagai orang Irlandia, saya datang ke Amerika untuk mencari dukungan politik disana, karena ada banyak keturunan orang Irlandia yang bekerja sebagai anggota Senat, anggota DPR, mentri, tentara, polisi, dll, merekalah yang menjadi modal saya untuk berdiplomasi dan mencari dukungan politik bagi kemerdekaan Irlandia…”

Sang aktivis masih tetap membisu dan merenungi semua ucapan Sang Jendral, sejurus kemudian berkata pula Jendral tadi

“Anak muda, saya tidak membicarakan prasangka rasialis a la Hitler, tetapi ini kenyataan politik, saya tentu bersimpati dengan gerakan Papua Merdeka dan mendukungnya karena Bangsa Irlandia juga sedang mengalami nasib yang sama, tetapi inilah perilaku politik dunia, ini sebuah rahasia yang secara jujur saya ungkapkan kepada Anda, oleh karena itu saya menyarakan Anda untuk tidak lagi datang kesini tetapi pergilah ke negara-negara Melanesia, pergilah ke Afrika, merekalah negara-negara bangsa yang secara politis pasti akan mendukung Papua Merdeka tanpa syarat…”

Tentu ini suatu pernyataan yang mulia dari orang tua Irlandia tadi dan tidak pernah ungkapan sejujur ini keluar dari mulut orang kulit putih lain, demikianlah yang dipikirkan sang aktivis. Mungkinkah nasib Bangsa Melanesia di Tanah Papua saat ini masih tetap terjajah karena proses diplomasi yang keliru? Begitulah kira-kira renungan akhir dari proses dialog yang kembali direnungkan anak muda Papua ini.

Lalu disaat akhir ketika hendak berpamitan dengan Sang Jendral, aktivis Papua Merdeka ini diingatkan lagi oleh sang Jendral

“Ingat anak muda, jika Anda sudah cukup membangun diplomasi di Melanesia dan Afrika barulah Anda datang kembali ke Irlandia dan menceritakannya kepada saya hasil pekerjaan Anda, jika Anda melakukannya dengan baik, sudah jelas, dukungan bagi Papua Merdeka akan pasti Anda raih!”

————————

Cerita Kedua; Aktivis Papua Merdeka dengan Associate Professor dari Oxford University

Cerita lain. Suatu ketika, aktivis Papua merdeka dalam ceritera dengan Sang Jendral Irlandia diatas melakukan perjalan ke Swiss untuk mengikuti pertemuan mengenai hak-hak kaum minoritas. Dalam pertemuan seremonial yang dilakukan salah satu badan PBB tersebut, banyak sekali berkumpul tokoh-tokoh politik dan diplomat kaum minoritas dari seluruh dunia. Setelah mengikuti beberapa sesi dalam pertemuan tersebut berakhirlah pertemuan ini.

Diakhir acara, datanglah seorang Associate Professor dari Oxford University yang menjadi staff ahli pada badan PBB tadi, lalu berbincang-bincang dengan aktivis Papua ini, kata sang professor “Wah, bahasa Inggris Anda beraksen Inggris murni, apakah Anda seorang aktivis dari Inggris?” Lalu sang aktivis menjawab “Oh…Bukan, saya bukan berasal dari Inggris, saya berasal dari Papua Barat.” Professor tadi lalu bertanya “Untuk apa Anda datang kesini?”

Tentu saja sang aktivis sedikit bingung dengan pertanyaan ini, bukankah ia sedang berupaya untuk melakukan lobby dilembaga ini dengan menggambarkan kondisi politik di Tanah Papua dengan harapan mendapat dukungan dan menjadi masukan bagi badan PBB ini untuk dilanjutkan kemudian di badan PBB lain yang lebih tinggi? Demikianlah pemikiran yang muncul dalam benak sang aktivis.

Professor tadi memahami kegalauan hati aktivis Papua Merdeka ini, lalu ia meneruskan diskusinya.

“Tuan, jika Anda hendak berjuang bagi penegakan HAM disini memang tempat yang pas, tetapi jika Anda hendak berjuang bagi Papua Merdeka, jelas disini bukan tempat yang pas, Anda akan disibukkan dengan proses birokratis yang berliku dalam badan-badan PBB yang rendah seperti pertemuan hari ini, berkas Anda tentu akan masuk ke meja Sekjen PBB, setelah melalui beberapa tahapan atau tingkatan pertemuan badan-badan PBB diatas lembaga ini, tetapi akan disortir sesuai kepentingan politik global dan jika sesuai dengan politik global maka berkas Anda akan diprioritaskan.”

Sang aktivis lalu bertanya “Mengapa bisa begitu? Bukankah sejak dulu para aktivis mendatangi lembaga seperti ini untuk menemui jalan keluar permasalahan politik, HAM dan Demokrasi serta masalah Lingkungan Hidup yang dihadapi bangsa mereka masing-masing?”

Sang professor dengan cepat menyanggah

“Memang benar demikian, tetapi Tuan harus ingat bahwa disini lembaga HAM dan bukan lembaga politik, jika Tuan hendak memperjuangkan kemerdekaan Papua Barat, Tuan harus melobby suatu negara merdeka yang memiliki hak berbicara di Sidang Umum maupun Sidang Dewan Keamanan PBB, karena di dua agenda sidang PBB inilah Anda akan mendapatkan saluran politik yang semestinya. Bukan disini Tuan, bukan di badan HAM PBB atau di badan Lingkungan Hidup PBB atau di badan Sosial PBB, kesemuanya hanya menjadi alat lips service dari para pembuat keonaran, yaitu negara-negara maju yang telah merusak lingkungan alam Anda, melanggar HAM Anda dan akhirnya merusakkan tatanan social Anda dengan nilai-nilai demokrasi yang mereka tawarkan!”

Wahai! Ini suatu pernyataan yang menarik, demikian terbersit keheranan dan kekaguman sang aktivis pada si professor yang telah berani jujur mengakui mentalitas biadab yang melingkupi lembaga dunia sekaliber lembaga HAM PBB di Jenewa [Swiss] ini dan berbagai lembaga dunia lain yang dibangun untuk kepentingan birokratis global kaum penjajah dengan tujuan sangat jelas, yaitu untuk melanggengkan sifat-sifat agresif mereka dalam mengontrol dan menjarah negara-bangsa pinggiran seperti Afrika, Amerika Latin, Asia dan Pasifik dengan memakai berbagai regulasi [aturan/hukum] internasional yang dibuat lembaga-lembaga internasional seperti ini.

Cerita masih berlanjut, dua tokoh kita ini lalu datang ke sebuah kafe, duduk memesan minuman dan mereka melanjutkan diskusi, tentu banyak hal ditanyakan sang professor pada aktivis Papua Merdeka ini dan dijawab seperlunya.

Meniru adegan sebelumnya seperti yang dilakukan Jendral Irlandia dalam ceritera terdahulu, si professor membuka lengan baju dan menunjukkan kulit tangannya kepada aktivis Papua Merdeka, teman dialognya, dan berkata “Tuan, coba Anda lihat kulit Anda dan saya, bukankah berbeda?”

“Ya, tentu saja,” jawab aktivis Papua ini, lalu si professor menambahkan “Inilah rahasianya Tuan, jika Anda hendak berjuang bagi Papua Merdeka, Anda harus datang kepada lingkungan politik negara-negara dimana Papua Barat berada, Anda berasal dari rumpum bangsa Melanesia, maka Anda harus datang kepada negara-negara Melanesia yang telah merdeka untuk mendukung perjuangan politik Papua Merdeka, itulah rahasianya, Anda tidak harus ke Eropa atau Amerika, mereka bangsa kulit putih, dan tidak secara serta merta akan mendukung perjuangan Anda, berbeda jika Anda datang ke lingkungan politik yang terdekat dengan Anda seperti negara-negara Melanesia di Pasifik Selatan.”

Wah, ini suatu pernyataan politik yang luar biasa dari seorang kulit putih lain yang berempati dengan perjuangan pembebasan nasional Papua Barat, demikianlah kira-kira pikiran yang berkeamuk dalam kepala si aktivis Papua Merdeka.

Diakhir pertemuan yang akrab itu si professor kemudian berpesan kepada tokoh kita dari Papua ini

“Tuan, jika Tuan sepakat dengan apa yang saya sampaikan, saya tidak mau melihat Tuan datang kesini lagi, semuanya yang Anda lakukan disini akan sia-sia, sebab disini bukan tempatnya, datanglah ke negara-negara Melanesia, lalu majulah bersama mereka kehadapan Sidang Umum PBB atau Sidang DK PBB, disanalah Anda harus berjalan untuk menempuh perjuangan politik Anda. Secara moral, sebagai orang Inggris, saya mendukung perjuangan Anda, tetapi secara politik, belum tentu saya mendukung upaya Anda, ingat politik rasial tetap hidup dalam percaturan politik global…”

Demikianlah kira-kira deskripsi singkat yang coba digambarkan dalam dua ceritera dari tokoh politik kita yang memiliki pengalaman politik tadi dalam perjalanannya di Eropa.

—————————–
Pesan moral dari kedua ceritera diatas adalah:

Jika kita mau berjuang secara tuntas dan jelas bagi kemerdekaan Papua Barat, maka jalan paling rasional untuk mencari dukungan politik bagi kemerdekaan kita adalah dengan cara membangun dan menguatkan diplomasi politik internasional Papua Barat di kawasan Pasifik Selatan, dimana negara-negara Melanesia berada.

Jika rumah kita rusak atau rubuh terkena badai, bukankah tetangga terdekat yang kita mintai pertolongannya sebelum memanggil orang yang paling jauh dari rumah kita? Jika kita hendak bikin kebun, bukankah orang sekampung yang kita undang dan bukan mereka yang ada di kampung lain? Jelaslah sudah pesan Jendral dari Irlandia dan Professor dari Oxford Inggris tadi. Kiranya pesan moral ini menjadi renungan bagi kita, aktivis Papua Merdeka, yang hendak berjuang bagi pembebasan nasional Papua Barat.

Dengan demikian negara-negara Melanesia di kawasan Pasifik Selatan seperti Vanuatu, PNG, Fiji, Solomon Island, Kiribati dan Tuvalu menjadi modal utama diplomasi politik internasional kita. Setelah berhasil di Melanesia baru langkah selanjutnya adalah Afrika, Uni Eropa dan Amerika Serikat. Mari bergerak ke Timur dan Selatan kawan!

Comments

comments

 
» ⟩ 5 More Tagged:
  • No related posts found
   
» ⟩ Related News, Web, Images, Videos, Books from Google
Loading
 
Berita terkait dari Google.com berdasarkan kata-kata dalam juduil berita.
   

Leave a Reply