Analisis Politik: Internasional, Indonesia, Tanah Papua

- Oleh Hans Gebze

Perang Energy

Peristiwa 11 September 2001 telah merubah wajah dunia, tidak saja memunculkan AS sebagai kekuatan tunggal dunia yang sangat dominan tetapi juga menjadikan wilayah-wilayah lain yang menjadi incaran telah menjadi korban dari sebuah perang atas terhadap terror.

Dengan dukungan mayoritas rakyat, Senat dan DPR AS yang secara psikologis tertekan dibawah baying-bayang terorisme, akhirnya pemerintahan Bush melakukan apa yang dikenal dunia sebagai “perang melawan terror” atau “war on terror” demi memburu seorang Bin Laden dan menghancurkan jaringan terror yang dimilikinya.

Pada waktu itu Bush menuding Irak, Afghanistan dan Iran sebagai Axis of Evil alias sekutunya iblis yang memilkiki kekuatan politik untuk mendukung gerakan Osama Bin Laden sehingga negara-negara ini pantas mendapat hukuman setimpal dari pemerintahan Bush, demikianlah picu konflik internasional muncul kehadapan dunia.

Dick Cheney, seorang konservatif kanan dan salah seorang dari koneksi korporasi perminyakan AS yang menjadi wakil presiden AS, adalah tokoh sentral dan konseptor dibalik war on terror pemerintahan Bush dan yang secara efektive mampu mempengaruhi kebijakan politik luar negeri AS pasca tragedy 9/11.

Tuduhan terhadap Irak dan Iran agak samar karena memang Osama Bin Laden tidak pernah secara terbuka berhubungan langsung dengan presiden Sadam Hussein waktu itu ataupun dengan para mullah yang memimpin Iran, Afghanistan jelas mengakuinya dan regime Taliban adalah regime yang telah mendeklarasikan Afghanistan sebagai negara Islam dengan menjalankan syariat Islam secara ketat bagi rakyatnya.

Dengan dukungan penuh dari korporasi perminyakan AS, pemerintahan Bush akhirnya memulai perang terbuka dengan menginvasi dan menduduki Aghanistan, menggulingkan pemerintahan yang berkuasa dibawah kekuasa kaum Taliban dan membentuk pemerintahan transisi dibawah kepemimpinan presiden Hamid Karzai. Yang menjadi tujuan antara dalam perang tersebut adalah memburu Osama Bin Laden tetapi gerakan perang AS di Afghanistan juga adalah untuk menghancurkan pemerintahan yang tidak pro Barat, dalam hal ini AS, sehingga pemerintahan Taliban menjadi sasaran tembak dari mesin-mesin perang AS.

Tujuan sesungguhnya dari politik perang AS di Afghanistan adalah untuk membuka jalan bagi kepentingan energy [minyak bumi dan gas alam cair] bagi AS dari wilayah Kaukasia dan Afghanistan pada waktu itu berada dibawah kendali pemerintahan Taliban. Dalam kendali regime Taliban, AS tidak memiliki akses politik di Afghanistan sehingga rencana ekonomi mereka untuk membangun jaringan PNG [pipe line gas] dan pipa minyak untuk mengalirkan minyak bumi dan gas alam cair dari wilayah-wilayah Kaukasia, antara lain Kirgistan dan Tajikistan, tidak berlangsung mulus, rencana pembangunan Pipa Gas dan Minyak Bumi itu akan dibangun dari Kirgistan melewati Aghanistan dan mengalirkan Minyak dan Gas Alam itu ke pelabuhan dagang AS di Pakistan. Namun karena terhambat oleh keberadaan regime Taliban di Afghanistan maka jalan paling efektif adalah menghancurkan penghalangnya, demikianlah akhirnya Afghanistan menjadi medan perang AS.

Drama perang belum berakhir, berdasarkan nasihat para penasehat keamanan Bush, AS yang telah sukses menghancurkan sasaran antara, yaitu Afghanistan, pasukan AS kemudian menyerbu Irak, kali ini bukan karena keberadaan Bin Laden di negara ini tetapi merupakan agenda pokok para penasehat perang Bush [korporasi perminyakan AS] yang sudah ngiler mengambil untung dengan menguras ladang-ladang minyak bumi di Irak.

Dengan alasan kepemilikan senjata pemusnah masal yang dimiliki Irak dibawah kepemimpinan Sadam Hussein, AS akhirnya membenarkan propagandanya untuk melakukan perang melawan Irak. Tetapi kemudian, seperti kita ketahui, hasil investigasi badan atom internasional [International Atomic Energy Association, IAEA] akhirnya membuktikan bahwa Irak tidak memiliki hulu ledak nuklir seperti yang ditakutkan AS.

Lalu mengapa AS ngotot serang Irak? Tujuannya adalah untuk mengambil minyak bumi yang ada di Irak untuk kebutuhan konsumsi energy dalam negeri AS, inilah dia pangkal masalahnya! Irak diduduki, rakyat Irak dikorbankan, banyak pula tentara AS mati sia-sia, dan hasilnya masih tetap nol. AS belum bisa mengambil keuntungan secara mutlak di Irak karena perang masih berkecamuk, bahkan konflik horizontal diantara rakyat Irak muncul dan tentara AS yang berada ditengah-tengahnya menjadi korban dari perlawanan rakyat Irak, inilah sebuah kenyataan politik yang tidak bisa dihindari.

Politik perang AS terus berpendar dan yang berada didepan telunjuk AS kali ini adalah Iran. Sudah diketahui awam, Iran adalah negara penghasil minyak terbesar ketiga di dunia setelah Arab Saudi diurutan pertama dan Rusia diurutan kedua. Dengan alasan yang sama terhadap Irak, AS juga memainkan kartu as yang sama, yaitu menuduh Iran memproduksi senjata pemusnah masal, yaitu nuklir. Tuduhan belum terbukti dan AS terus membuka konfrontasi politik secara terbuka dengan Iran dalam wilayah diplomasi internasional. Tetapi dalam hal Iran, AS agak hati-hati karena Iran didukung oleh Rusia dan China serta blok politik Amerika Latin yang dipimpin oleh Hugo Chaves dari Venezuela.

Pada akhirnya sudah kita ketahui jelas. Politik perang yang dikembangkan AS diwilayah Teluk, konfrontasi politik dengan Iran dan determinasi politik AS dalam perang terbatas Rusia di Georgia adalah merupakan produk dari keinginan AS untuk mengontrol produksi dan penjualan minyak dunia. Sudah jelas pula bahwa perang AS kali ini adalah perang energy, sebuah perang atas keinginan menguasai sumber-sumber energy di muka bumi.

Comments

comments

 
» ⟩ 5 More Tagged:
  • No related posts found
   
» ⟩ Related News, Web, Images, Videos, Books from Google
Loading
 
Berita terkait dari Google.com berdasarkan kata-kata dalam juduil berita.
   

Leave a Reply