Dihadang Polisi, Massa KNPB Mengamuk

Rusak Marka Jalan dan Rumah Warga, 43 Orang Diamankan

Jayapura – Sekitar 500 massa Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang hendak menggelar aksi demo ke Taman Imbi Jayapura, dihadang  aparat Kepolisian, Senin 4 Juni di Perbatasan antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Akibatnya, massa yang datang dari arah Sentani kembali dan mulai melakukan pengrusakan terhadap marka jalan dan sejumlah rumah warga. Polisi kemudian mengejar, dan berhasil mengamankan puluhan massa.
Dari pantauan langsung,  massa KNPB yang berencana menggelar aksi demo, mulai berkumpul sejak siang hari dari segala penjuru Kota dan Kabupaten Jayapura serta Keerom. Mereka menetapkan titik kumpul di Expo Waena tepat di Jalan Raya Abepura-Sentani.
Ratusan Massa yang datang dari arah Sentani dengan 11 truk dan belasan sepeda motor kemudian dihadang dan dibubarkan di perbatasan kota oleh aparat gabungan Brimob dan personil Polresta Jayapura dan Sentani. Massa lantas kembali ke arah Sentani, namun mulai bertindak brutal. Saat tiba di Kampung Harapan, massa lalu mulai anarkis dengan merusak dan menghancurkan marka jalan, serta merusak rumah warga.
Juru Bicara Polda Papua AKBP Yohanes Nugroho Wicaksono saat dikonfirmasi membenarkan aksi anarkis ratusan massa KNPB. “Mereka memang dihadang di batas Kota Jayapura, dan saat kembali ke arah Sentani massa merusak rambu, marka jalan serta sejumlah rumah warga,”ungakpnya.
Mengetahui tindakan massa sudah anarkis, sambungnya, aparat gabungan kemudian melakukan pengejaran dan berhasil menangkap puluhan massa yang diduga bertindak anarkis. “Ada 43 orang yang diamankan karena diduga melakukan pengrusakan, dan disaat dilakukan pengejaran, satu orang ditemukan terkapar diselokan,”ucapnya. Massa juga melempar tombak dan panah hingga mengenai dua warga. “Ada dua warga yang terkena di bahu dan tangan, saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit,”jelasnya.
Menurutnya, situasi sudah dapat dikendalikan, massa sudah membubarkan diri. Namun 43 orang masih diamankan untuk menjalani pemeriksaan.

Di Sentani
Sementara itu dari Sentani Kabupaten Jayapura dilaporkan,  Senin siang (04/06) bertempat di Jalan Hawai samping Pompa Bensin Sentani, dua orang warga terkena panah dari massa yang hendak berdemo ketika massa ini membubarkan diri secara paksa karena tidak diberi ijin berdemo oleh pihak keamanan.
Dari data yang berhasil diperoleh di lapangan, kedua korban tersebut diantaranya Sunardi (32) seorang laki-laki beragama Budha suku Lombok yang beralamat di Entrop Distrik Jayapura Selatan yang terkena luka panah pada bagian punggung belakang sekitar pukul 14.30 WIT. Saat kejadian korban sedang memarkir mobil kemudian jalan kaki menuju jalan setapak ke rumah Haji Usman, tiba-tiba massa memanah korban dari belakang, kejadian tersebut bersamaan pada saat massa bergerak dari Kampung Harapan menuju Kota Sentani yang mana kemudian korban langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Youwari. Korban lainnya bernama Roni Sihombing (36) laki-laki beragama Kristen Protestan suku Batak yang beralamat di Yapis Dok V yang terkena luka panah di bagian lengan kanan bagian atas selebar 5 cm sekitar pukul 16.00 WIT. Sihombing terkena panah di sekitar Hawai dekat Asrama Koramil ketika hendak pulang ke Yapis.
Kejadian bermula ketika massa yang hendak menuju arah Waena dibubarkan oleh aparat keamanan di Telaga Maya. Karena tidak diperbolehkan melintas akhirnya massa bubar dan massanya terpencar. Ketika sampai di Kampung Harapan, beberapa orang massa mulai merusaki rumah warga yang ada di sekitar jalan raya. Demikian juga massa yang melintas di sepanjang jalan Hawai. Salah satu massa membawa panah dan menghamburkan panah kemana-mana hingga mengenai dua orang warga. Bahkan beberapa rumah warga serta toko di sepanjang jalan Hawai samping Pom Bensin Hawai Sentani dilempari batu hingga kaca-kaca pecah dan rusak.
Akibat kejadian tersebut, sontak Kota Sentani yang tadinya ramai tiba-tiba sepi. Masyarakat berhamburan menyelamatkan diri dari panah-panah yang berterbangan di udara. Pertokoan yang ada di sepanjang Jalan Sentani Kota lantas tutup rapat. Masyarakat yang memiliki aktifitas di pinggir jalan seperti berjualan atau yang mengojek memilih menghindari jalan raya dan kembali ke rumahnya masing-masing.
Polisi pun tampak berjaga di depan Masjid Raya Sentani yang menghimbau warga yang melintas baik yang berjalan kaki maupun naik kendaraan untuk putar baik dan kembali ke rumah atau mencari tempat yang aman.
Beberapa warga yang tinggal di pinggir jalan memilih untuk mengungsi ke tempat yang dirasa lebih aman. Bahkan ada warga yang nekat mengungsi ke Bataliyon 751, baik dengan menggunakan kendaraan maupun yang berjalan kaki.
Seperti yang diutarakan Marisa seorang pemilik toko yang ditemui Bintang Papua tengah mengungsi bersama dua orang anaknya.
“Kita disuruh mengungsi mba karena rumah kita di pinggir jalan, takutnya massa rusak atau bakar rumah dan toko kita,” tuturnya dengan nada terengah-engah sembari menggendong bayinya yang baru berumur 8 bulan dan cepat-cepat meninggalkan Bintang Papua.
Selain itu, dari data yang dikumpulkan pula, sebanyak 9 tersangka pelaku pengrusakan dan pemanah warga telah berhasil diamankan di Polsek Sentani Kota untuk penyelidikan lebih lanjut. Dari pantauan Bintang Papua di lapangan, Sentani sempat mencekam sejak pukul 14.00-18.00 WIT.
Ketika dikonfirmasikan kepada Kabid Humas Polda Papua AKBP Yohanis Nugroho mengenai kejadian ini, dirinya menyebutkan bahwa pihaknya masih menunggu laporan dari anggotanya di Sentani.
“Maaf, saya masih tunggu laporan dari Sentani,” ujarnya melalui teks SMS yang dikirim kepada Bintang Papua. (jir/dee/don/l03)

Leave a Reply