Tak Ada Uang Jutaan Beredar, Biaya Operasional Harian per Orang Hanya Rp 197 Ribu

Bocornya Laporan 13 Tahun Silam Satgas Ban – 5 Kopasus Pos I Kotaraja (Bagian 2)

Konon jutaan rupiah digelontorkan intelijen untuk “menghabiskan” para aktivis pro Merdeka, yang sumbernya dari bocoran Laporan Satgas Ban-5 Kopasus Pos I Kotaraja yang dipublikasikan Alan Nairm seorang jurnalis berkebangsaan Amerika Serikat, namun laporan berkala itu ternyata hanya berisi daftar pengeluaran (Biaya Operasional) per orang anggota Satgas yang berjumlah 6 orang, yang dirasa sangat minim jika dibanding luas dan tingkat kesulitan tugas mereka. Sebuah keluhan bawahan pada atasan.

Oleh : Walhamri Wahid

Ilustrasi KopasusUntuk kesuksesan dalam melaksanakan tugas operasi di daerah Kotaraja dan sekitarnya kami juga mendapatkan dukungan berupa dana operasi yang perinciannya adalah sebagai berikut: Uang makan Rp 30.000/hari, Uang saku Rp 10.000/hari, Uang Kese­hatan Rp 2.000/hari, Uang Transportasi, Rp 10.000/hari, Uang Sarana Kontak Rp 35.000/hari, Uang Sarana Penggalangan Rp 10.000/hari, Uang Komunikasi Rp 100.000/hari, Uang Kodal Pos Rp.580.000/bulan, Uang Kodal Danpos Rp 1.100.000/bulan.

Demikian kutipan langsung pada Laporan Triwulan I Satgas Ban-5 Pos I Kotaraja di halaman 21 pada Sub Judul Pelaksanaan point ketiga Evaluasi yang berhasil diperoleh Bintang Papua, biaya operasional harian anggota Satgas yang bila di jumlahkan dalam seharinya tidak mencapai Rp200ribu yang jauh dari cukup itulah yang disinyalir oleh Forkorus Yaboisembut ratusan juta beredar dalam operasi intelijen untuk mematai – matai dan membungkam aktivitas mere­ka sebagaimana informasi yang mereka terima dari publikasi media nasional.

Forkorus Yaboisembut sendiri kepada Bintang Pa­pua mengaku tidak memiliki dokumen laporan Kopasus tersebut secara fisik, namun hanya membaca dari pemberitaan media – media nasional secara online yang mengulas publikasi yang dilakukan oleh Alan Nairm seorang jurnalis berkewarganegaraan Amerika Serikat lewat blognya berjudul Breaking News : Secret Files Show Kopassus, Indonesia`s Special Force, Target Papuan Churces, Civilians. Dokumen Leak from Notorious US-Backed Unit as Obama Lands in Indonesia, yang diterbitkan Selasa, 9 November 2010 lalu, saat kunjungan Presiden Obama ke Indonesia.

Dalam halaman 23 Laporan Triwulan I Satgas Ban-5 Pos I Kotaraja pada angka romawi VII Hambatan dan Cara Mengatasinya di point C Dukungan, tertulis keluhan anggota Satgas akan minimnya dukungan terhadap biaya operasional mereka sehari – hari, yang lengkapnya tertuli, “Banyaknya kegiatan dan aktivitas dari pada kelompok GSP/P dan biaya hidup yang serba mahal, kadang membuat dana operasi yang diberikan dari Satgas habis sebelum waktunya, se­hingga kami dalam menutupi hal tersebut kadang minta kiriman dari keluarga di Jakarta seperti meminta isi pulsa, atau meminjam teman yang masih memegang uang, karena masing-masing kita dalam penggunaan uang sehari-hari adalah berbeda, terutama dalam hal penggunaaan telepon”.

Sebagaimana dimuat dalam media ini edisi Senin (15/11) bahwasanya Ketua DAP Forkorus Yaboisembut mensinyalir jutaan rupiah beredar di Papua yang digelontorkan intelijen untuk membungkam dirinya dan beberapa aktivis lainnya, dimana hal tersebut dibuktikan dengan adanya pemberian sejumlah uang oleh pihak – pihak tertentu kepada orang – orang sekitarnya, khususnya anggota Satgas Petapa (Penjaga Tanah Papua).

Namun informasi tersebut sudah di bantah oleh oknum guru berinisial AB yang langsung melaporkan halnya ke Mapolres Kabupaten Jayapura dan menjelaskan bahwa pemberian uang itu karena anggota PETAPA tersebut adalah anak mantunya dan untuk membeli motor, dan ia merasa kecewa karena pemberiannya itu di politisir sedemikian rupa.

Dalam laporan Satgas Ban – 5 Pos I Kotaraja itu sama sekali tidak ada satu strategi ataupun pola –pola pendekatan yang bertujuan meredam aspirasi Merdeka yang di kampanyekan oleh tokoh – tokoh GSP/B dengan membagi – bagikan sejumlah uang kepada pihak ketiga di luar dari anggota Satgas, karena bila melihat nominal operasional mereka yang sangat minim,bahkan untuk uang kesehatan per orangnya hanya Rp.2.000/ hari/ orang, rasanya mustahil mereka sampai membagi – bagikan uang sampai jutaan rupiah kepada orang lain dengan target melemahkan barisan sekitar Ketua DAP dan aktivis lainnya.

Untuk menjalankan tugas negara menjaga keutuhan NKRI, dalam laporan tersebut terungkap mereka lebih banyak melakukan pendekatan dan membangun komunikasi mencoba meluruskan paham ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD dengan melakukan lobby kepada tokoh – tokoh adat, agama, pemerintah,dan lembaga kultural lainnya termasuk MRP dan DPRP.

Jangankan memberikan sejumlah dana kepada pihak ketiga, untuk menunjang operasional mereka saja masih serba kekurangan, seringkali mereka harus pandai- pandaimenyiasati keadaan, karena fasilitas pendukung yang mereka miliki bisa dikatakan sangat minim.
“Untuk menunjang operasional harian,kami di tunjang dengan 1unit motor Honda Mega Pro, dan 1 unit handycam,dan kamera merk Sony”,demikian tertulis dalamlaporan Satgas Ban-5 Pos I Kotaraja itu. (Bersambung)