Para Mantan Pejuang Trikora Tidak Rela Papua Pisah dari NKRI

JAYAPURA- Dalam rangka HUT Trikora ( Tiga Komando Rakyat) ke-47, jajaran Muspida Provinsi Papua, Kamis (18/12) kemarin melaksanakan kegiatan sosial anjangsana ke sejumlah mantan Pejuang Trikora.

Kegiatan anjangsana ini dibagi dalam beberapa kelompok/rombongan. Rombongan pertama, Kasdam XVII/Cenderawasih Brigjen TNI Hambali, Kakesbang Papua mewakili Gubernur, Wakajati Papua Poltak Mannulang, SH, Aster Kasdam Kolonel CHB Viktor Tobing dan Kapendam Letkol Inf. Imam Santoso mengunjungi Mantan Pejuang Adrianus Apelam di Cigombong Kotaraja.

Rombongan kedua, Ketua Pengadilan Tinggi Papua, Danrem 172/PWY Kolonel Czi I Made Sukadana, Asops Kasdam dan Kasintelrem melaksanakan anjangsana ke kediamana Alfons Nussy di Hamadi dan Pieter Wona di Argapura. Rombongan ketiga, Kapolda Papua Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto, Danlantamal, Aslog Kasdam, Asren Kasdam dan Kababinminvetcad mengunjungi kediaman Arif Puasa di Abepura dan Sakur Wahid di Perumnas 1 Waena.

Rombongan keempat, Ketua DPRP Drs. John Ibo, MM, Irdam, Asintel Letkol Inf. Khairully, Aspers dan Dandim 1701/ Jayapura Letkol Kav A.H Napoleon mengunjungi keluarga Marthen Rodjuto di Entrop dan Abdul Fuad di Abepura dan rombongan kelima, Danrindam, Danlanud Jayapura, Bupati Jayapura, Danyon 751/BS dan Kasiterrem melaksanakan anjangsana ke rumah keluarga Natales Maturbong dan Jerol J di Sentani.

Kasdam XVII/Cenderawasih Brigjen TNI Hambali Hanafiah mengatakan, tujuan anjangsana para unsur pimpinan Muspida ke sejumlah mantan para pejuang Trikora ini sebagai wujud kepedulian pemerintah sekaligus bentuk penghormatan dan penghargaan kepada mereka. Sebab, tanpa pengorbanan dan perjuangan mereka maka Papua tidak mungkin ada seperti sekarang ini.

“ Siapa pun harus menyadari dan menyakini bahwa Papua yang merupakan bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukanlah pemberian bangsa lain tapi merupakan hasil perjuangan dan penghorbanan para mantan pejuang. Kita sebagai generasi penerus mereka tidak boleh melupakan sejarah apalagi sampai menodai perjuangannya,” ujar Kasdam kepada wartawan, kemarin.

Menurut Kasdam, yang patut diteladani oleh generasi muda adalah, meskipun usai mereka ini sudah lanjut namun semangat dan tekadnya untuk tetap mempertahankan NKRI dari Sabang sampai Merauke sangat tinggi.

Harusnya nilai-nilal perjuangan dan semangat mereka ini yang harus terus dipupuk dan dipelihara untuk membangun daerah ini. Sebab, cita-cita untuk meraih kemajuan dan kehidupan yang lebih baik hanya bisa diraih jika dilandasi dengan tekad dan semangat yang tinggi.

Pada saat Presiden Soekarno pada tanggal 19 Desember 1961 mencetuskan Trikora, para mantan pejuang saat itu rela meninggalkan keluarganya untuk berjuanga melawan kolonial Belanda di tanah Papua (Irian Barat). Yang ada dibenaknya saat itu adalah Papua sekarang ini tidak boleh lepas dan harus tetap utuh menjadi bagian NKRI.

Sementara itu, salah seorang mantan pejuang Trikora Andrianus Apelam mengaku sangat sedih jika masih adanya kelompok-kelompok masyarakat yang menginginkan Papua lepas dari NKRI. Sebab, untuk mempertahankan atau merebut Papua dari kolonial Belanda ratusan pejuang termasuk dari Papua sendiri telah gugur dimedan perang.

Tidak itu saja, banyak juga diantara mereka yang saat ini masih hidup namun mengalami cacat tubuh akibat terkena peluru serdadu Belanda. Termasuk dirinya sendiri yang tangan kanannya sempat cacat akibat terjangan peluru Belanda. Bekas luka itu masih ada di tangannya.

“ Yang jelas saya tidak rela jika sampai Papua ini lepas/terpisah dari NKRI. Sebab, untuk mempertahankan Papua menjadi bagian dari NKRI tidak sedikit perjuangan dan pengorbanan yang sudah dilakukan. Saya sendiri dan beberapa teman dari Papua sempat dua kali ditangkap dan dibuang (dipenjara) ke Boven Digoel. Tapi saat itu saya tidak pernah takut dengan belanda justru semangat untuk melawan Belanda saat itu semakin berkobar,” ujarnya seraya mengingat perjuangan masa lalu.

Yang ada dibenaknya saat itu bendera merah putih harus terus berkibar di wilayah Irian Barat. Akhirnya melalui perjuangan yang panjang dan tidak kenal menyerah Belanda akhirnya bersedia mengembalikan Irian Barata ke PBB untuk dikembalikan ke Pangkuan Ibu Pertiwi.

Karena itu, dirinya meminta kepada kelompok-kelompok yang menginginkan Papua lepas dari NKRI agar belajar sejarah yang benar kepada saksi-saksi/pelaku sejarah yang masih hidup dan bukan kepada orang lain yang tidak tahu sejarah sebenarnya.

Papua bagian dari NKRI sudah final dan telah mendapat pengakuan dunia internasikonal dan PBB. Yang harus dipahami adalah, proses penentuan pendapatan (Pepera) saat itu belum mengenal metode one vote one man ( satu orang satu suara) seperti sekarang ini, tapi hanya bisa dilakukan melalui keterwakilan. Proses penentuan pendapat itu sendiri dibawah pengawasan langsung PBB. Jadi kondisi ini yang perlu dipahami rakyat Papua mengenai sejarah Pepera.

Sementara itu, Ketua Panitia HUT Trikora Kolonel CHB Viktor Tobing mengatakan, 19 Desember 1961 merupakan peristiwa penting bagi keutuhan NKRI karena tanggal ini Presiden Soekarno menyerukan Komando Trikora. Bagi Kodam, HUT Trikora ke-47 dan Infantri ke-63 merasa perlu digabungkan agar generasi muda tidak melupakan dua peristiwa sejarah bangsa tersebut.

Perintah Presiden disampaikan dengan lantang di depan rapat akbar di Jogyakarta, karena belanda masih melanjutkan kolonialisme di tanah air. Sehingga rakyat Indonesia termasuk yang berada di Irian Barat untuk melaksanakan Tri Komando yang isinya, Pancangakan sasangka Merah Putih di Irian Barat, Gagalkan Negara Boneka Papua dan adakan mobilisasi umum.

Guna memuluskan operasi Trikora, dibentuklah Komando Mandala yang membawahi unsure AD, AL dan AU dan Kohanudgab Mandala yang bertugas merencanakan, mempersiapkan dan menyelenggarakan operasi militer untuk merebut Papua Barat dari Belanda.

Sementara itu berkaitan dengan HUT Trikora dan HUT Infantri, Kamis (18/12) kemarin telah dilaksanakan sejumlah kegiatan diantaranya karya bhakti TNI pembersihan tugu Yos Sudarso di Taman Imbi dan Pepera yang dipimpin Dandim 1701/Jayapura Letkol Kav. A.H Napoleon. Menurut Dandim, dua tugu tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi sehingga keberadannya perlu dijaga dan dirawat. Sorenya, Dandim juga membuka pertandingan Futsal di Yapis Jayapura yang juga merupakan rangkaian HUT Trikora.

Sehari sebelumnya, Kodam juga telah melaksanakan kegiatan pengobatan massal bagi warga Hamadi yang belum lama ini terkena musibah gelombang pasang. Disela-sela meninjau kegiatan pengobatan massal, Kasdam menyerahkan sembako kepada warga setempat.

Sedangkan puncak HUT Trikora dan HUT Infantri akan dilaksanakan pagi ini Jumat (19/12) dalam suatu upacara militer di Lapangan PTC yang dipimpin Pangdam Mayjen TNI A.Y Nasution. Rencananya, acara ini akan dihadiri unsur Muspida Provinsi Papua Gubenur Papua Barnabas Suebu, SH, Ketua DPRP John Ibo, MM, Kapolda dan eleman masyarakat lainnya. (mud)

Leave a Reply