Analisis Politik: Internasional, Indonesia, Tanah Papua

- Oleh Hans Gebze

Submitted by admin on Jumat, 27 Februari 2009No Comment

Situasi Politik Internasional

Analisis ini dilakukan guna memetakan secara jelas fenomena politik global yang mulai mengkerucut kedalam era baru politik perang dingin pasca terjadinya perang terbatas antara Rusia dan Georgia, selain itu perang melawan terror atau war on terror yang dikembangkan Regime G.W Bush dari AS di kawasan Teluk juga memberikan dampak yang jelas bagi terbangunnya aliansi-aliansi taktis dari para pihak yang bertikai.

Sebagai contoh, Iran adalah sebuah negara yang memiliki minyak bumi sebagai kekayaan nasional sangat berlimpah sehingga keberadaan AS dan sekutunya serta tentara mereka yang beroperasi di wilayah teluk secara politik berpengaruh terhadap eksistensi Iran sebagai negara merdeka dari kemungkinan diduduki oleh AS seperti pada Irak dan Afghanistan, sebagai akibatnya, Iran mencari kawan politik untuk menandingi hegemoni atau pengaruh AS dikawasan Teluk, secara tradisioanal Rusia dan China adalah kawan politik Iran dan Venezuela yang memiliki pengaruh politik di kawasan Amerika Latin juga kali ini telah membangun hubungan taktis dengan Iran.

War on terror dari AS dan para sekutunya jelas merupakan perang untuk menguasai sumber-sumber energy dunia dimana kekayaan energy [minyak] tersebut sepenuhnya berada dibawah kendali negara-negara teluk seperti Irak [pada waktu Sadam Hussein berkuasa] dan Iran serta negara-negara di Jazirah Arab seperti Arab Saudi dan kawasan Arab Magribi seperti Libya serta beberapa negara dikawasan Kaukasia dan Balkan yang berada dibawah pengaruh Rusia sebagai salah satu produsen energy terbesar dunia serta negara-negara dikawasan Amerika Latin dengan Venezuela sebagai pemimpin produksi energy. Wilayah-wilayah sumber energy ini berada ditangan negara-negara yang tidak pro AS, maka AS menghalalkan berbagai cara untuk menguasainya, salah satu metode yang digunakan adalah dengan politik “perang melawan terror” atau “war on terror” tadi.

Roda-roda industry dinegara industry maju [Amerika, Uni Eropa, China, Rusia dan Jepang] dan negara industry baru [Korea Selatan, Singapura, India, Australia, dll] dalam menjalankan mesin-mesin produksinya harus menggunakan energy [minyak] sebagai sumber penggerak mesin utama industry, sehingga untuk memenuhi hal tersebutlah sengketa atas penguasaan aset minyak dunia mengemuka selama 10 tahun terakhir pasca berakhirnya era booming minyak pada tahun 1970 – 1980-an.

Karena kelangkaan minyak bumi dan untuk mengurangi ketergantungan negara-negara industry akan penggunaan minyak bumi sebagai bahan utama penggerak mesin industry, telah mulai dikembangkan metode penggunaan energy primer selain minyak bumi, yaitu gas alam cair [LNG] yang bisa disublimasi menjadi minyak untuk menggerakkan sector industry.

Minyak bumi telah menjadi barang langkah, sedangkan minyak bumi menentukan gerak maju proses industrialisasi sebuah negara sehingga ia menjadi barang langka yang diperebutkan banyak pihak yang tergantung kepadanya dan AS adalah konsumen atau pemakai terbesar energy dunia hari ini, dengan total konsumsi nasional sebesar 40 persen dari hasil produksi minyak dunia. Dengan demikian menjadi wajar jika AS memiliki mental aggressor dalam hal menguasai sumber-sumber energy dunia diluar wilayah AS karena kebutuhan energy domestiknya yang sangat besar.

Tanah Papua memiliki sumber-sumber energy primer [minyak bumi dan gas alam] yang melimpah dan Sejak jaman Belanda NNGPM, sebuah kongsi dagang dibidang pengeboran minyak, telah menggali sumur-sumur minyak di Tanah Papua, salah satunya yang terbesar berada di Sorong dan produksi minyak ini dilanjutkan oleh Pertamina [Indonesia] – Duth Shell [Belanda] dan Petro China, masih berproduksi sampai saat ini.

Telah ditemukan juga gas alam cair atau Liquid Natural Gas / LNG [diperkirakan terbesar di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik] di Tanah Papua, yaitu LNG Tangguh di Teluk Bintuni. British Petrolieum dari Inggris selaku pemegang saham utama telah membangun mega proyek LNG Tangguh senilai US$ 5 milyar dollar sebagai ladang gas alam cair [LNG] potensial dengan kandungan mencapai 14,4 Trilyun Kaki Kubik.

Tanah Papua potensial dalam hal kandungan alamnya [sumber energy dan pertambangan strategis] sehingga menjadikan wilayah ini sebagai wilayah yang panas oleh karena perebutan kepentingan ekonomi diantara para pemilik modal internasional yang telah mendorong pemerintahan mereka untuk membuat berbagai kebijakan luar negeri mengenai Tanah Papua dari sudut yang menguntungkan posisi ekonomi mereka.

Amerika Serikat [dengan kepemilikan Freeport di Timika Papua, dan General Electric serta Saipem di proyek LNG Tangguh], China [dengan China National Offshore Oil Corporation menanam modal di LNG Tangguh], Inggris [dengan BP sebagai operator utama LNG Tangguh], Jepang [dengan Nippon Oil Exploration Limited - Japan Oil, Gas and Metals National Corporation – Kanematsu Corporation – Mitsui & Co. Ltd. – Sumitomo Corporation – Sojitz Corporation – Mitsubishi Corporation – INPEX Corporation – adalah korporasi global milik Jepang yang menanam modal di LNG Tangguh] dan korporasi modal Korea Selatan juga sebagai penanam modal di LNG Tangguh adalah negara-negara dan korporasi modal internasional yang sudah masuk Tanah Papua untuk mengeruk kekayaan dari sumber-sumber energy primer [Liquid Natural Gas] yang dimiliki Tanah Papua.

Suka atau tidak suka, kita berada dalam jangkauan dan cengkeraman jaringan korporasi modal global yang sedang mengambil kekayaan alam kita tanpa kita merasakan manfaat darinya. Dengan demikian War on Terror regime G.W Bush yang berkecamuk diwilayah Irak dan Affhanistan sesungguhnya juga secara ekonomi dan politik berpengaruh pada posisi perjuangan politik Bangsa Papua yang memiliki Tanah dengan kekayaan energy yang melimpah.

Bagian ini menjadi pembuka untuk mengantarkan analisis lebih jauh mengenai konflik-konflik ekonomi dan politik internasional, peran negara-negara dibalik konflik tersebut, dampak yang dihasilkan terhadap peradaban dunia termasuk Tanah Papua, kebijakan luar negeri yang dihasilkan, dan akhirnya posisi politik luar negeri mereka secara khusus dalam mendukung Gerakan Pembebasan Nasional Papua Barat, selanjutnya dalam analisis ini disingkat GPNPB.

Comments

comments

 
» ⟩ 5 More Tagged:
  • No related posts found
   
» ⟩ Related News, Web, Images, Videos, Books from Google
Loading
 
Berita terkait dari Google.com berdasarkan kata-kata dalam juduil berita.
   

Leave a Reply