Kunjungan MSG Babak I 2014 dan Tanggapan Bangsa Papua

- Ada yang Menolak, Ada yang Menyesal dan Ada yang Mensyukuri.
Papua New Guinea shares the island of New Guin...

Papua New Guinea shares the island of New Guinea, world's second largest, with two Indonesian provinces (Photo credit: Wikipedia)

Benar, ada yang menolak, ada yang menyesal, ada yang bingung, tetapi ada pula yang mensyukuri kedatangan Tiga Menteri Luar Negeri (PNG, Solomon Islands dan Republik Fiji serta badan urusan Dekolonisasi Republik Vanuatu. Yang menolak punya alasan sama dengan alasan pemerintah Republik Vanuatu, yaitu bahwa delegasi yang datang ke Tanah Papua di bagian Barat pulau New Guinea itu telah melanggar resolusi dari Melanesia Spearhead Group (MSG) di Noumea, Kanak menjelang akhir tahun lalu. Mereka menganggap kedatangan para pemimpin negara Melanesia ini telah dibajak oleh NKRI sebagai penjajah manusia Melanesia.

Sementara itu ada yang menyesal bukan karena para menteri luar negeri yang datang melanggar keputusan MSG, tetapi karena cara mereka datang tidak sesuai dengan cara-cara yang umumnya berlaku bagi pemimpin negara yang mengunjungi negara lain. Mereka diterbangkan dari Jakarta di malam hari, dan tiba di Jayapura pagi-pagi buta. Mereka diterbangkan dengan pesawat non-reguler, dicarter khusus untuk mereka oleh NKRI. Benar-benar perlakuannya sama dengan perlakuan terhadap teroris, atau penjahat kelas kakap. Mereka pertanyakan, "Itukah nilai dan hargadiri orang Melanesia di bagi orang Melayu-Indonesia?"

Yang bingung dengan kedatangan ini tidak tahu apa yang harus dikatakan. Terpaksa diserukan kepada orang Papua supaya "lupakan masa lalu, untuk menatap heri esok yang lebih baik dari hari kemarin." Jadi kedatangan ini dimanfaatkan untuk memaksa orang Papua melupakan segala perbuatan NKRI di atas tanah dan atas hidup dan nasib bangsa Papua. Kedatangan orang-orang Melanesia yang mewakili negara-negara mereka ini justru terjadi akrena mereka "mengingat sejarah masa lalu" yang berpengaruh terhadap masakini dan masadepan. Rupaya orang-orang yang menyerukan orang Papua "lupakan masa lalu" patut dipertanyakan apakah identitas mereka benar-benar orang Papua ataukah mereka telah disulap? Soalnya orang Papua dan Melanesia hari ini tidak sama dengan hari kemarin. Hari ini orang Papua tidak harus berambut keriting, orang Melanesia tidak harus bermarga Enembe, misalnya. Melanesia modern dan Papua modern ialah mereka yang mencintai tanah ini, mencintai ras ini dan berjuang untuk membela dan mepertahankannya dari kepunahannya dari tanah leluhurnya. Sekedar karena ayah dan ibu orang Melanesia tidak harus berarti kita orang Papua, karena sudah banyak orang Papua telah berubah status sukunya menjadi orang "Papindo" (Papua Indonesia).

map Melanesia, Oceania

map Melanesia, Oceania (Photo credit: Wikipedia)

Yang mensyukuri kedatangan mereka punya alasan sendiri, yaitu bahwa kedatangan ini merupakan yang pertama dalam sejarah orang Melanesia, yang terjadi setelah ratusan, bahkan puluhan ribu tahun orang-orang Melanesia di Fiji, Vanuatu, Kanak dan Solomon Islands datang ke Tanah Leluhur mereka, yang telah mereka tinggalkan puluhan ribu tahun lalu. Ini tanah Melanesia, dari sini semua orang Melanesia berangkat dan menyebar ke seluruh Kepulauan Melanesia. Kami yang ada di pulau New Guinea, khususnya di West Papua ialah orang-orang yang dimintakan oleh mereka di Vanuatu, Fiji, Solomon Islands untuk menjaga tanah leluhur kita.

Pada waktu itu, puluhan ribu tahun lalu itu, mereka berangkat dari Tanah Papua bagian barat, dan mereka meninggalkan pesan, "Kami pergi berburu dulu, nanti kami akan balik." Dan mereka balik sekarang awal tahun 2014. Tetapi yang terjadi sekarang bukannya mereka balik setelah berburu, tetapi mereka balik setelah berkembang-biak dan bersuku-bangsa, bernegara-bangsa. "Syukur bagi-Mu Ya Tuhan!" atas peristiwa bersejarah ini.

Sekarang PMNews kembalikan kepada Anda dan kita semua, orang Papua, orang Melanesia untuk menilai. Dan jangan sampai di situ saja, kita juga harus bertanya kepada nenek-moyang kita, kepada para penghuni alam dan Bumi Cenderawasih: gunung, laut, darat, lembah, danau, kali, udara. Kita harus bertanya kepada para pahlawan Papua Merdeka yang telah gugur di medan perjuangan. Kita harus bertanya juga kepada anak-cucu yang akan lahir setelah kita:

  • "Apa artinya kedatangan ini bagi saya, bagi keluarga saya, bagi nenek moyang dan anak-cucu saya, bagi bangsa saya, bagi tanah air saya, bagi ras saya?"
  • Apakah ini hanya sekedar kunjungan para menteri luar negeri yang datang untuk bekerjasama di bidang ekonomi dengan Indonesia? Lalu Melanesia di kemanakan?

 

Enhanced by Zemanta

Comments

comments

 
» ⟩ 5 More Tagged:
  • No related posts found
   
» ⟩ Related News, Web, Images, Videos, Books from Google
Loading
 
Berita terkait dari Google.com berdasarkan kata-kata dalam juduil berita.
   

Leave a Reply