Markas Pusat Pertahanan Komando Revolusi Tertinggi Tentara Revolusi Papua Barat (TRPB) dengan ini bermaksud menjelaskan satu dari berbagai perhitungan praktis langkah yang telah diambil Panglima Komando Tertinggi Tentara Pembebasan Nasional (TPN atau TEPENAL) di Markas Pusat Pertahanan pada November - Desember 2006: yaitu pemisahan organisasi sayap militer (TPN/TRPB) dari organisasi ...
SP/Elly Burhaini Faizal - John Holmes Belum lama ini, Perdana Menteri Kanada Stephen Harper menyampaikan permintaan maaf resmi, atas nama rakyat dan pemerintah, kepada penduduk aborigin (asli) di sana. Di hadapan parlemen pada 11 Juni, Harper meminta maaf atas kebijakan asimilasi yang diterapkan pemerintah di masa lalu yang ternyata sangat merugikan dan menyakitkan masyarakat asli, meminggirkan kebudayaan, warisan tradisi, dan bahasa mereka. Kebijakan tersebut diarahkan bagi anak-anak dari keluarga Indian. Mereka diharuskan masuk ke sekolah khusus yang disiapkan oleh pemerintah untuk "dididik." Selama lebih satu abad, Indian Residential Schools mencabut 150.000 anak aborigin dari keluarga dan komunitas mereka. Pada1870, pemerintah federal membangun dan mengatur administrasi sekolah-sekolah tersebut.
Abimanyu Seorang peserta sedang memaparkan pendapatnya di salah satu sesi diskusi Forum Perdamaian Dunia di Jakarta. Kekerasan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Fakta-fakta kekerasan lebih nyata lagi di tengah masyarakat yang tingkat ekonominya rendah. Jika seluruh aspek kehidupan dicermati, kemiskinan seringkali disebabkan oleh struktur yang memiskinkan mereka, baik sosial politik maupun ekonomi.

SP/Boy Surya Hamta Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar (tengah), didampingi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta (kiri) menanam pohon, di Padang Panjang, Sumatera Barat, baru-baru ini. Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar mencanangkan gerakan penanaman dua juta pohon di Sumatera Barat (Sumbar). Pencanangan ini adalah salah satu upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan dari efek pemanasan global yang terus mengancam kelangsungan hidup manusia.
JAYAPURA-Kapolda Papua, Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto menyesalkan terjadinya insiden yang diduga melibatkan oknum anggota kepolisian yang terjadi di Pos Polisi Tinggi Nambut, Kabupaten Puncak Jaya, Rabu (25/6) kemarin. “Pimpinan (Kapolda Papua, red) tentu sangat menyesalkan, jika memang insiden itu terjadi,” kata Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Drs Agus Rianto kepada Cenderawasih Pos dikonfirmasi terkait dugaan penganiayaan terhadap Anto Asse (28) salah seorang staf Pemkab Puncak Jaya yang diduga melibatkan oknum anggota polisi tersebut.