Perjuangan “Damain” dan Reaktualisasi Keaslian Nilai Papua Asli

Kebebasan, persamaan, keadilan dan kemanusiaan untuk menentukan nasib sendiri sebagai bangsa berdaulat merdeka

Konsep dan Pendekatan Perjuangan Papua

Untuk menjawab ajakan diskusi Saudara Henk Rumbewas, saya buat catatan khusus. Karena itu sebelum memasuki inti persoalan disini diawali dengan catatan sebagai tanggapan. Selanjutnya disusul kerangaka pemikiran saya menjawab sebagai respon atas catatan koreksi darinya saya jawab sbb:

Luar dari biasa, karena hemat saya agak semrawut, lalulintas di Ampera, Klofkamp, APO Kali dan lebih-lebih "Lingkaran setan" ABEPURA, Jayapura. Berdiskusi tanpa kerangka logika ketepatan berfikir yang konklusinya solusi lansung; Bukan kurang bisa sama sekali tidak didapatkan disini manfaatnya, sebagai keuntungan, jika yang dikedepankan adalah sektor pinggiran, bukan inti soal Papua hari ini. Lalu apa solusinya? Karenanya, tapi agak melenceng dari sesuatu yang lebih bersifat memberi manfaat.

Tapi ini latihan sekaligus "putar-putar otak", jadi taputar-taputar, atau "ekstace" jadinya anda dan saya sekaligus agar bagaimana rasanya orang mabuk anggur cinta, karena disini disuguhkan rajun dan madu sekaligus, jadi Kita mabok, sambil menantikan kematian karena madu dan racun sekaligus. Kita mabuk cinta. Cinta formalisme, bentuk, kulit, tapi mengharap dikasihani, karena itu harus selalu damai, nyaman, tentram, sentosa atau istilah Anda, "Peace". Sesuatu yang sangat dikritik habis oleh Friedrich Nietzsche sebagai "Bermentalitas Budak/ Memelas dihadapan Tuan.

A. Nilai-nilai Papua Asli

Damai adalah mentalitas memelas yang sama sekali bukan budaya Papua dan tidak ada sedikitpun dalam adat/ tradisi dalam kebudayaan manusia Papua manapun, entah di Pulau, pinggir laut atau ditengah gunung Papua bermentalitas atau berbudaya "Damai" asing dipahami. Sengaja diberi tanda petik, sebagai damai dalam pengertian dan yang hidup dalam budaya Papua berbeda sama sekali dari apa yang ditawarkan sekelompok minoritas orang Papua atas the silent majority, sebagai format perjuangan dalam menuju Papua Merdeka.

Tapi jika kenyataannya ini yang menang dan disuguhi dihadapan mayoritas budaya dan adat Papua. Maka manusia serta kekayaan alamnya Papua diarahkan oleh mereka sebagai sasaran perburuan yang sesungguhnya. Karena "Perjuanagan Damai" sebagai, hanya gagasan membawa etnis Papua dan wilayah Papua ke kawasan perburuan, (killing ground).

Maka dengan sendirinya gagasan dan penetapan "perjuangan damai" adalah jalan perusak (destroyer), karena membiarkan para killers, pemburu, yang berwatak melenyapkan (un-nihilisme) bukan saja adat dan budaya Papua, tetapi juga berarti etnis, serta kekayaan alam semuanya akan benar-benar menjadi punah dari peradaban umat manusia dimuka bumi sebagai karya maha agung Penciptaan.

Sungguh sama sekali tidak ditemukan yang bermentalitas dikasihani, sehingga yang dikedepankan adalah HAM, demokrasi, penegakan hukum. Karena semua itu adalah konsep asing/ barat yang sudah telah merdeka. Karena itu bagi mereka yang paling penting adalah damai, sejahtera dalam negara berdaulat telah mereka kuasai. Hal demikian sangat tidak relevant apalagi cocok dalam adat dan budaya Papua yang asli. Tapi kalau mau tetap akan dipaksakan dengan rekayasa konsep asing maka hasilnya selalu saja tetap akan gagal dan kita saat ini menyaksikan hal itu pasca Kongres Papua ke II.

Didunia bangsa manapun sama sekali tidak ada yang pernah merdeka atau menuju kemerdekaan dengan cara damai, dalam pengertian kedaulatan dari unsur penindasan oleh kolonialis seperti apa yang kita hadapi di Papua Barat saat ini. Aktifitas seperti Munir, Adnan Buyung Nasution, jangan samakan dengan keadaan kita di Papua atau penegak demokrasi tulen Gus-Dur dari Ciganjur yang dibanggakan kaum minioritas dinegerinya Abdurrahman Wahid, adalah cocok bagi Indonesia, sebab Indonesia sudah merdeka. Mereka hanya memperjuangakan, jadi hanya memperjuangkan penegakan demokrasi dalam negara yang sudah merdeka yang bernama NKRI.

Tapi jika Papua pantaskah semua orang beraktivitas mendirikan LSM seperti mereka yang disebut-sebut oleh Henk Rumbewas di atas? Papua mau dijadikan sebagai daerah Zona damai, padahal tujuannya mau merdeka karena belum berdaulat oleh pengakuan dunia internasional? Pantaskah kita sibuk dengan rutinitas orang lain hanya menegakkan demokrasi, HAM, penegakan hukum di tanah yang sesungguhnya tidak damai? Kecuali hanya ketakutan dan kekerdilan jiwa para pemimpin Papua atau hanya mencari kekenyangan isi perut diri sendiri?

Papua punya HAM, demokrasi, dan penegakan hukum tapi bukan cara asing yang dicoba ditampilkan dan yang sedang dipraktekkan serta dipertontonkan oleh sementara pihak selama ini. Semua yang dicoba tampilkan adalah konsep asing, bukan cara dan budaya yang berarti kepribadian orang Papua yang sesungguhnya, yang selalu percaya pada diri dan kemampuannya sendiri.

Jika orang Papua tidak lagi percaya pada diri dan kemampuannya sendiri maka ini adalah alamat kematian bangsa dan budaya Papua sesungguhnya. Mereka para musuh asing telah berhasil membunuh budaya dan karakter/ mentalitas orang Papua yang sesungguhnya tangguh-tangguh! Tidak memelas dan menyerah pada musuh begitu saja dengan kami damai, perjuangan damai. Apaan itu perjuangan damai? Konsep asing sajamo...!

Jika para pemimpin bermentalitas begini, maka tunggulah kehancurannya, jika dibiarkan terus begitu, tanpa mau dikreatifitasi dengan tantangan konteks kekinian yang harus segera direspon secara cepat. Daripada dicoba mempertahankan "Perjuangan Dami", dan terus berkutat disitu; Hasilnya: "Damai sejahtekah kini Tanah Papua sebagai Tanah Kanaan? Tuhan yang tahu jawabannya, jika demikian anda menjawab dan mengatakan; maka saya jawab, Tidak ada Tuhan yang sesungguhnya di Papua, selain Tuan-Tuan Papua sendiri!

Kecuali Tuhan hanya suatu perasaan orang-orang kalah dari kompetisi kehidupan duniawi kekiniaan, sehingga agama hanya sebuah tempat pelarian bagi orang-orang yang kalah. Sebagai hiburan semata-mata bagi perasaan yang memang kalah maka dikatakan oleh Karl Max Agama adalah Candu yang sangat berbahaya jika kita melihat segala sesuatu selalu dari sudut Agama.

B. Pembebasan Papua Adalah Rasionalisasi

Dalam suatu upacara kematian ada tradisi di kalangan suku Dani (orang Wamena), dengan kebiasaan memotong jari atau telingga, hakekatnya tidak baik karena menghilangkan sesuatu yang alami dari diri/ tubuh, tapi nilai yang diajarkannya adalah bahwa; bagi mereka tidak ada hari esok/ akhirat, karena itu tidak ada hari kebangkitan sesudah hari kematian. Manusia mati, ya selesai begitu saja, (sangat rasional bukan?).

Karena itu maksud dari cara negatif, namun bernilai positif dalam budaya memotong telingga, atau jari-jari tatkala ada sanak saudara yang meninggal adalah menandakan, bahwa tidak ada pertemuan kembali di lain waktu, sesudah kematian sebagaimana umumnya ajaran semitisme. Karena itu bawahlah pergi bersama sebahagian dari anggota tubuh ini, sebagai kenangan dari yang masih hidup dalam perpisahan yang abadi ini.

Karena itu rasanya lucu sekali kalau ada orang bertahun tahun menghabiskan waktu menuntut ilmu di unversitas masih saja mengharap Tuhan datang memerdekakan Papua. Tidak malukah berhadapan dengan orang yang tidak pernah sekolah tapi sudah mencapai tahapan aukflaruung, enlightenment? Sedang kita masih saja selalu irrasional? Dengan serta merta mengharap sesuatu yang tidak betul pasti? Utopia, berawal dari sini, kalau mentalitas para pejuang Papua M selalu kalau yang ada begini semua adanya. Bagaimana jadinya Papua nanti?

C. Damai sama dengan cinta

Dalam gurindamnya Frederich Nietche, pernah mengatakan begini : "Laki-laki dan perempuan memiliki rasa cinta yang sama, namun berbeda dalam tempo. Adalah sesuatu yang tidak pernah disadari yang berlangsung terus menerus dalam kehidupan manusia, mengapa diantara keduanya harus saling mencintai? ". Karena itu, maka orang yang lain berkata : " sex itu enak tapi lupa rasanya". E…h, sa bicara apa eh.. . ? Tra mengerti !

Saya mau cukupkan saja sampai disini, terimakasih, karena ini adalah persoalan sekitar masalah yang menurut saya sangat asasi. Soal pinggiran juga kita campurkan juga dalam diskusi ini, karena dengan Abang Henk Rumbewas, orangnya mengasyikkan tapi juga santun, karena itu saya menghormarmatimu, kawan! Sebagai sahabat. Enak jadinya kita untuk melanjutkan diskusi ini, karena alasannya agak berbobot. Mengingat Abang Rum ini tetap memancing untuk kita menjawab agak lebih serius dari yang sudah-sudah yang sudah dirasakan tak "tertahankan" lagi (runtuh) dimakan oleh pembaharuan pemikiran anak-anak muda dengan pemikiran "nakal" yang dirasanya menghawatirkan, sehingga jangan lagi ada Teys Eluay ke 2-3 sampai seterusnya Munirpun jadinya sama.

Jadi masalahnya : "Cuma realitas hidupnya dan aplikasinya tidak semudah yang diinginkan atau didambakan manusia". Berarti Saudara kita, Henk Rumbewas adalah tipe manusia pesimistik. Namun menginginkan hidup abadi, sesuatu yang bertentangan dengan konsep teologi monetheisme abrahamic yang selalu disebut-sebutnya sebagai konsepsi "ideal" dalam melihat konteks perjuangan Papua. Tapi bukankah ada Film yang berjudul "the single not the song", (penyanyinya bukan nyanyiannya) yang menggambarkan seorang bandit besar mengikuti keberanian seorang Pendeta, bukan kebenaran ajaran yang dibawakannya. (Gus-Dur; Membangun Demokrasi,1998).

D. Kesimpulan

Yang mengedepankan budaya Perjuangan Damai Papua adalah yang memiliki mentalitas budak, menurut Frederich Nietche, karena itu hanya utopia belaka harap-harap Tuhan Merubah Nasib Papua, demikian kecaman Karl max yang komunis. Padahal adat dan Budaya Papua semisal dari Wamena tadi sangat rasional sebagai pencerahan kalau kita mau belajar dari mereka. Tapi kita selalu arogan, karena itu kita tidak mau belajar dari sekitar kita sendiri, akibatnya dependent mentalitas kita, bukan Tuan tapi Budak Militer Indonesia sebagai penjaga keamanan NKRI.

*** ***
PIKIRAN RAKYAT PAPUA

Comments

comments

Leave a Reply