PENGRUSAKAN ALAM PAPUA: Merusak Tatanan Moral dan Iman Manusia Papua

- opini Oleh, Marius Goo

Pengantar

Papua dikenal oleh khalayak umum terutama Karena konflik yang sangat subur. Konflik demi konflik; baik konflik vertikal maupun konflik horizontal terus terjadi. Di antaranya; konflik dengan alam, konflik antarsesama manusia, konflik agama, konflik politik, konflik ideologi, konflik ras, konflik kepentingan, konflik budaya, dan lain sebagainya. Konflik dengan alam akhir-akhir ini bengitu hangat dan meluas di seluruh pelosok Papua. Para investor-investor besar menanam saham di Papua, termasuk kapitalis membuka perusahaan-perusahaan di mana-mana, dengan jenis dan tingkatan perusahaan yang beraneka ragam. Misalnya; perusahan MIFE di Merauke, perusahaan tambang di Degeuwo, perusahaan Kelapa Sawit (Rajawali) di Keroom, perusahaan minyak di Sorang, hingga perusahaan raksasa PT. Freeport Indonesia di Timika.

Semua konflik berdasarkan jenis dan tindakan yang berbeda, khususnya dalam konflik dengan lingkungan alam sebagai tempat manusia hidup, telah mempengaruhi moral dan iman manusia di Papua. Di mana moral, mental orang Papua menjadi terpengaruh yang akhirnya iman terkena bias pengaruhnya, terutama terhadap martabat manusia dan menjaga keutuhan ciptaan Allah.

Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Moral

Orang Papua memandang alam sebagai ibu, seorang mama yang menjadi sumber pemberi kehidupan adalah satu hal yang tidak dapat dipungkiri dan hal ini amat menyentuh di hati manusia Papua yang bermoral baik. Orang Papua yang moral maupun mentalnya sudah rusak dapat menjualbelikan tanah. Walaupun demikian, orang Papua pada umumnya memandang tanah sebaga ibu yang memberi kehidupan, ibu yang menjaga dan memelihara seluruh nafkah kehidupan, yang di dalamnya soal mempertahankan atau menurunkan keturunan.

Moral orang Papua yang mau menjual tanah dapat dikatakan bahwa moralnya sangat dangkal, bahkan dapat dikatakan sebagai amoral, orang tak bermoral. Jiwa atau semangat orang tak bermoral adalah melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya, apa yang baik, apa yang bernilai dan apa yang berguna. Tindakan orang amoral ialah orang yang selalu mencari dan menciptakan situasi kacau, tidak aman dan konflik yang berkepanjangan. Mereka mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang panjang dan tindakannya selalu bersifat pragmatis, asal jadi sehingga hasilnya mudah termakan arus. Orang-orang amoral adalah orang-orang yang mementingkan kehidupannya sendiri (mereka bersifat eksklusif) dan sesama yang lain menurutnya adalah sarana atau objek untuk mencari keuntungan bagi kepentingan dirinya.

Tindakan orang-orang amoral ini telah menghadirkan aneka perusahaan di Papua. Mereka melepaskan beribu-ribu hektar tanah untuk menghadirkan sebuah lembaga perusahan, mulai dari perusahaan kecil hingga perusahaan-perusahaan raksasa selevel PT. Freeport Indonesia di Timika. Mereka “menjualbelikan tanah” dengan “Uang Rupiah” yang mudah rusak dan harganya dapat berubah-ubah. Tanah yang amat berharga (ibu), mereka samakan dengan ‘rupiah’ yang selalu merusak moral dan iman manusia, mengganti dengan ‘mamon yang dapat merubuhkan bangunan iman yang kokoh.’ Apa akibat yang dialami dengan pengrusakan alam? Tidak sedikit akibat yang diterima secara bersih oleh manusia, dengan aneka masalah yang bertubi-tubi dan tak dapat diselesaikan.

a. Merosotnya Moral Manusia

Moral berhubungan dengan sikap manusia terhadap manusia lain. Bagaimana seorang manusia menjadi manusia terhadap sesama manusia yang lain. Kalau orang Papua tidak berlaku baik (mental atau moralnya tidak baik) terhadap tanah sebagai seorang mama, menusia demikian menjadi pertanyaan besar, apakah ia manusia bermoral? Atau bagaimana dengan keyaninannya terhadap “hukum karma” (hukum sebab-akibat)?

Biasanya orang yang menjual tanah adalah orang yang moralnya tidak baik, hidupnya selalu kacau dan tidak teratur, dalam keluarga selalu bertikai ‘broken home’, hingga terakhir menjadi korban nyawa. Orang yang menjual tanah, ketika melihat kampung dusunnya sudah menjadi milik orang lain, ia menjadi stress dan akan mengambil suatu jalan pintas; hidup dalam keonaran, mabuk-mabukan, menjadi pengemis, pengembara dan pencuri. Apalagi uang pengganti tanah tersebut sudah habis, tinggal menjadi manusia pengembara di atas tanahnya sendiri hingga terakhir nyawa masuk dalam sang ibu yang telah dijualbelikan.

Orang yang bermoral selalu menjaga hubungan harmonis dengan alam kekayaannya sebagai milik kepunyaan sendiri. Selalu menjaga, merawat, dan memeliharanya, karena jika dilupakan bahkan memutuskan hubungan dengannya ia akan menjadi lawan yang paling geram hingga menghabiskan nyawa. Moral manusia yang baik adalah sejauh mana manusia dapat menjaga hubungan baik dengan ‘yang lain’.

b. Konflik Antarsesama Berkepanjangan

Jika tanah berhektar-hektar sudah menjadi milik perusahaan raksasa, lebih lagi yang bekerja di dalamnya adalah mayoritas pendatang, eksistensi orang asli menjadi dipertanyakan, kalau eksistensi mulai dipertanyakan maka terjadilah kekacauan, percekcokan dan permusuhan antara orang asli dan pendatang. Tanah-tanah di sekitar perusahaan hancur dengan pembuangan limba-limba, kehidupan makluk disekitar perusakaan menjadi terancam, dan akhirnya memunculkan sebuah pertanyaan; apakah kehadiran perusahaan adalah mensejahterakan atau membawa malapetaka? Akhirnya menyesal dan berusaha untuk menutupnya, namun sayang seorang masyarakat kecil tidak mampu membendung kekuasaan dan kekuataan yang tersistem, akhirnya tenggal penyesalan seumur hidup dan penyesalannya adalah suatu kesia-siaan akibat tindakan amoral. Karena tindakan amoralnya, terciptalah isak dan tangis seumur hidup di dalam penderitaan walaupun memang sakit hati.

Setelah terjadi masalah dengan pihak perusahaan, terciptalah masalah dengan sesama rakyat. Saling tuduh-menuduh antara rakyat sendiri hingga saling menewaskan satu dengan yang lain. Sebab tanah sudah dijual habis dan setelah menjual habis tanahnya, ia merampat tanah baru (tanah milik sesama yang lain) dan orang-orang setempat tindak menerima, akhirnya terjadi sengketa tanah. Hidup antara satu dengan yang lain saling bermusuhan, dan terjadi konflik yang berkepanjangan. Jika tidak ada uang pergi mabuk dan menagih orang sembarang, atau menjadi seorang pengemis dan paling tidak menjadi seorang pencuri. Hidupnya selalu mengembara layaknya seperti manusia di padang gurun, tiada tempat tinggal yang jelas, jika waktu pengembaraannya lewat matilah dia seperi seekor tikus yang tak bernyawa, mestinya harus dikuburkan selayak manusia, namun karena tanahnya dijual tinggal dibuang atau dikuburkan secara tidak manusiawi.

c. Berdampak Terhadap Krisis Iman

Celia Deane-Drumond dalam bukunya, “Tologi & Ekologi: peganagan”, memmberitahukan sebuah korelasi antara alam, manusia dan Tuhan. Bahwa hubungan dengan alam dan sesama menjadi kacau, eksistensi hidup seorang manusia menjadi masalah utama yang dapat dipertanyakan. Jika manusia dengan manusia sudah kacau, penghargaan terhadap alam pasti tidak akan terwujud, apalagi Allah Pencipta segalanya, sebagaimana st. Paulus mengatakan, “seorang manusia mencintai Allah menandakan sudah mencintai sesama manusia yang kelihatan - tidak mungkin mencintai Allah yang tidak kelihatan jika tidak mencintai sesama manusia (alam) yang kelihatan.” Selanjutnya; dapatkah seorang manusia hidup seorang diri? Atau tujuan Allah menciptakan manusia dengan alam untuk apa?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting untuk melihat eksistensi hidup manusia, terutama dalam hubungannya dengan iman dan keberadaan diri manusia. Bahwa manusia ada untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah, yakni menghadirkan Kerajaan Allah secara utuh dan sempurna. Yang dimaksud dengan Kerajaan Allah ialah di mana Allah menjadi Raja di atas dan di dalam semua yang ada. Allah menghendaki keutuhan dan kesempurnaan ciptaan tetap terjaga, dan Allah menciptakan semuanya baik adanya. Kebaikan itu mesti terus dijaga dalam menjalin hubungan harmonis dengan Allah, alam dan sesama.

Pengrusakan terhadap alam kadang membuat iman orang semakin krisis. Dengan krisis kebutuhan sehari-hari, kebutuhan mendasar dan utama pun ikut terpengaruh terutama dalam mengimani Allah pemberi kehidupan. Ketika sumber-sumber kehidupan terganggu atau berkekurangan, orang beralih kepada Allah Pemberi sumber-sumber kehidupan tersebut, sampai orang mulai mengaduh dan mempersalahkah-Nya. Dalam situasi ini, iman orang pun semakin krisis dan bertanya, jika ada penderitaan seperti ini apakah Allah melihat atau tidak? Apakah Allah cuek dengan keadaan seperti ini? Ataukah Allah senang dengan kehidupan yang penuh derita ini? Orang-orang lalu lupa tanyakan diri; saya salah apa terhadap diri, sesama, leluhur, alam dan Allah?

Iman Kristiani di satu sisi berjuang memperbaharui dunia dengan ambil bagian dalam pembaharuan-pembaharuan dunia menuju kesempurnaan dan keselamatan, namum sisi yang paling utama adalah pembaharuan diri ‘pertobatan, metanoia atau rekonsiliasi diri’ terlebih dahulu adalah amat penting. Orang Kristiani yang beriman sungguh-sungguh adalah orang yang tertetap berjuang untuk mempertahankan keutuhan ciptaan. Orang tidak segan membela kebenaran, mengatakan tidak kepada hal-hal yang tidak benar, merugikan, memenderitakan, mematikan dan memperbudak yang lain. Dalam situasi yang sangat gawat iman seorang Kristiani diuji, apakah harus membela yang benar, memihak kepada yang korban dan berduka atau melarikan diri dan mencari tempat persembunyian dibalik lebel Kristianitas. Seorang yang mengaku muris Kristus perlu menunaikan amanat para uskup yang dituangkan dalam Konsili Vatikan II, khususnya dalam konstitusi dogma tentang ‘Gaudium et spes’ art. 1, ‘kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan pada murid Kristus juga.’

Penutup

Alam adalah ibu yang memberikan kehidupan kepada manusia, dan alam diciptakan oleh Allah untuk kehidupan dan kelangsungan hidup manusia sehingga perlu dijaga, dirawat, ditata dan dipelihara sebaik-baiknya. Bukan dijual, bukan digusur, bukan ditebang sembarang dan bukan digundulkan secara tidak bertanggung jawab. Karena jika terjadi masalah dengan alam pasti akan berkembang aneka persoalan dalam hidup manusia; dimana akan terjadi perubahan-perubahan dalam kehidupan bersama, kehidupan mental, moral dan kehidupan iman akan mengalami krisis. Hidup dalam keutuhan ciptaan Allah adalah upaya untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini. Menjaga alam adalah menjaga generasi penerus manusia dan keutuhan ciptaan Allah. Orang Papua perlu diingat bahwa, manusia tidak pernah akan bertahan hidup tanpa alam, namun alam akan tetap bertahan hidup tanpa manusia.

*) Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi STFT ‘Fajar Timur’ Papua

Enhanced by Zemanta

Comments

comments

 
» ⟩ Related News, Web, Images, Videos, Books from Google
Loading
 
Berita terkait dari Google.com berdasarkan kata-kata dalam juduil berita.
   

Leave a Reply