Evan Wabiser ; Peserta Saksi sejarah pada Kongres Papua II, 2000 mulai angkat bicara

- Diundang sebagai peserta saksi sejarah pada kongres Papua II, 2000

[Biak PMNews], Arpil 30, 2007, Mr. Everth Wabiser kelahiran Biak tahun 1952 yang diundang sebagai peserta saksi sejarah pada kongres Papua II, 2000 mulai berkomentar tentang pengalamanya semasa pelaksanaan PEPERA 1969 di Papua.

 

Pada tahun 1969 dimana saya juga berkecimpung di berbagai kegiatan untuk menolak pelaksanaan PEPERA 1969 yang dilakukan Indonesia di wilayah Papua. Kami menolak pelaksanaan PEPERA versi Indonesia itu karena tidak adil, jujur dan demokrasi. Pada waktu itu kami melaksanakan berbagai kegiatan untuk menyeruhkan kepada PBB untuk perlunya pelaksanaan PEPERA dengan standar hukum dan norma International yaitu satu orang satu suara secara adil, jujur, damai dan demokrasi. Pada tahun tersebut semua orang Papua yang melakukan  kegiatan protes terhadap pelaksanaan PEPERA yang di lakukan Indonesia  menjadi target penangkapan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

 

Pada tanggal 2 Agustus 1969, umur saya 12 tahun dan saat itu saya ditangkap disekolah SMP YPK Biak oleh satuan gabungan TNI. Pasukan gabungan TNI itu mengepung sekolah dan saya sendiri bertanya dan tidak tahu  persoalan apa saya ditangkap. Saya dibawah ke pangkalan TNI Angkatan Laut diBiak, didalam perjalanan saya teringat ada gambar kertas Bendera Bintang Kejorah tersimpan di buku-buku sekolah yang saya bawa, dan pikir saya jangan-jangan sampai famplet yang kami pakai pada saat pelaksanaan kegiatan penolakan PEPERA  yang membuat saya ditangkap, kemudian gambar kertas Bendera Bintang Kejorah tersebut saya makan.

 

Begitu kami sampai di Pangkalan TNI Angkatan Laut saya dituduh sebagai anggota OPM. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut karena saya disiksa, sekitar 10 orang TNI yang silih berganti melakukan penyiksaaan terhadap saya. Saya disiksa sampai tidak sadar diri dan saya ditinggalkan, setelah saya sadar saya dibawah ke ruang tahanan. Ketika saya sampai diruang tahanan saya melihat sudah ada orang Papua yang ada pada ruang tahanan tersebut berjumlah 130 orang dan selama tahun 1969-1970 jumlah orang Papua yang ditahan di ruang tahanan TNI Angkatan Laut Biak berjumlah 230 orang. Proses pemeriksaan terhadap tahanan orang Papua tersebut sama yaitu disiksa sampai tidak sadar diri dan setelah sadar lalu dibawah ke ruang tahanan. Ada sebagian orang Papua yang meninggal dalam proses pemeriksaan tersebut mungkin karena mereka tidak tahan dengan berbagai tindakan yang dilakukan, dan mereka yang meninggal ini tidak dihitung sebagai 230 orang yang hidup ditahan diruang tahanan. Setiap kali kami diperiksa sesuai dengan kemauan mereka.

 

Petugas TNI yang memeriksa saya adalah Kapten Sukarno, dalam pemeriksaan itu saya dipaksa untuk menyatakan tahu dan kenal Tokoh OPM Melkianus Awom alias Konsup, saya mengatakan namanya saya tahu tetapi tempat tinggalnya saya tidak tahu, karena saya tinggal dikota untuk sekolah. Dalam pemeriksaan itu saya dianiaya dengan rantai besi sepada, kayu dan pistol. Karena dalam pemeriksaan itu berkali-kali saya mengatakan saya tidak tahu menyebabkan dia emosi dan lansung menyiksa saya, saya disiksa dalam keadaan borgol. Pertanyaan ditanya kepada pada saya adalah apakah saya adalah betul-betul anggota OPM ? Saya merasa bahwa apa yang kami lakukan pada saat memprotes pelaksanaan Pepera 1969 versi Indonesia adalah sesuatu yang benar maka saya mengaku sebagai anggota OPM.

 

Dan selanjutnya dia mengatakan apakah anda yakin kamu akan Merdeka ? saya menjawab saya yakin pasti jika PEPERA yang dilakukan ini benar-benar adil, jujur, damai dan demokrasi sesuai dengan norma dan hukum International tentang pelaksanaan suatu referendum.Dan selanjutnya saya mengatakan cepat atau lambat kemerdekaan itu kami akan dapat. Setelah itu dia kembali bertanya kepada saya apakah saya tahu dimana tempat tinggal tokoh OPM Melkianus Awom ? namun saya katan lagi saya tidak tahu, begitu saya mengatakan saya tidak tahu maka saya disiksa dengan kayu dan bakar muka saya dengan rokok ( 1 bukus rokok).Setelah itu saya dibawa kembali ke ruang tahanan.

 

Didalam tahanan saya merasa heran karena setiap hari kami bagun tidur untuk melakukan apel pagi saya melihat jumlah kami berkurang dan saya bertanya kemana orang-orang yang ditahan tersebut. Saya berpikir bahwa orang-orang itu mungkin diculik pada malam hari, buktinya pada saat saya bebas atau dikeluarkan dari tahanan saya berusaha untuk mencari orang-orang tersebut yang tidak ada pada saat kami apel setiap pagi itu, ternyata tidak ada sampai saat ini. Saya dibebaskan pada bulan Februari tahun 1970. Dan pada saat saya bebas saya masih diwajibkan untuk wajib lapor kepada TNI. Saya divonis bebas pada peradilan Militer pada malam hari, dalam peradilan militer itu saya ditanya hakim militer apakah benar saudara adalah anggota OPM saya menjawab ya, saya anggota OPM. Dan pada saat pelaksanaan PEPERA 1969 versi Indonesia itu saya sudah ada dalam tahanan. Saya sangat heran mengapa status tahanan saya adalah status politik lalu sistim peradilan yang diberlakukan pada saya adah Peradilan Militer.

 

Berdasarkan pengalaman saya tersebut diatas, maka saya menyarankan kepada komponen-komponen perjungan Papua saat ini bahwa pada masa lalu kami menyuarakan Papua dengan hati nurani dengan satu kata Papua Merdeka, untuk itu pentolan-pentolan perjuangan Papua atau elemen-elemen perjuangan Papua saat ini harus mempunyai jiwa perjuangan yang murni juga yaitu untuk Papua Merdeka, jangan seolah-olah perjuangan saat ini hanya dilatarbelakangi untuk kepentingan pribadi atau batu loncatan untuk kepentingan pribadi. Saya percaya jika kita berjuang sungguh-sungguh maka apa yang kita berjuang selama ini pasti berhasil.

 

Saya menyarankan kepada OPM saat ini dalam memperjuangkan Status Politik West Papua ini harus bersatu, karena saya melihat perjuangan selama ini daerah tidak kompok dan tidak bersatu. Saya melihat bahwa ada keinginan kuat untuk mau merdeka tetapi belum adanya persatuan, untuk itu OPM saat ini harus bersatu; bersatu didalam dan bersatu diluar.

 

Saya sarankan kepada PDP bahwa secara pribadi saya berterima kasih kepada PDP karena telah melakukan berbagai hal untuk Papua dan bakan bisa sampai di Amerika, namun saya melihat masih ada berapa faktor yang ada pada mereka yaitu faktor kepentingan pribadi,saya sadar mereka juga manusia biasa dimana ada banyak persoalan seperti persoalan kebutuhan rumah tangga, tetapi mereka sudah bersedia untuk menerima tanggung jawab yang diberikan masyarakat Papua, mereka harus sungguh-sunguh memperjuangakan hal itu karena saya melihat akhir-akhir ini suaranya saja sudah tidak ada, suara tentang kondisi Papua tidak kedengaran, sepertinya mereka sudah mundur padahal sebenarnya mereka ada, tidak mundur tetapi kinerja mereka sudah menurun. Disinilah saya tarik kesimpulan bahwa sepertinya mereka itu ada kepentingan pribadi,dan saya ragukan itu jangan sampai mereka punya kepentingan ini yang digoceng dengan upaya ini atau tuntutan ini. Saya harap supaya saudara-saudara yang telah menerima mandate dan mandate yang diberikan Kongres II 2000 itu adalah Papua Merdeka dan disuarakan secara bulat, sehingga itulah yang diupayakan henta dengan cara apapun tapi saya harap supaya jangan diam, sebab diam berarti tidak bisa atau diam berarti tidak mampu, sebab itulah yang diharapkan masyarakat Papua termasuk saya.

 

Waktu Kongres II tahun 2000 saya diundang sebagai saksi sejarah dalam hal ini sebagai korban pelanggaran HAM. Hal inilah menyebabkan saya diundang dan saya bersaksi tentang itu.

 

Didalam Kongres Papua II tahun 2000 itu peranan PBB, Amerika dituduh bersalah, dimana PEPERA itu dibuat oleh Amerika dan pelaksanaan PEPERA 1969 di Papua itu tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada PBB yaitu aturan main untuk pelaksanaan referendum adalah satu orang satu suara dan ternyata yang diberlakukan di Papua adalah dengan cara Indonesia yaitu system musyawara atau perwakilan. Dan apa yang dilakukan Indonesia yaitu memaksa orang Papua untuk menyatakan bergabung dengan NKRI dan dengan tindakan terror, intimidasi, menyiksa, memenjarahkan  dan membunuh orang Papua. Untuk itu secara pribadi saya menyetujui perlu PBB( Amerika) melakukan peninjauan ulang PEPERA 1969. Dan perlunya suatu dialog International yang melibatkan berbagai pihak yang terlibat dalam persoalan manipulasi politik bangsa Papua untuk duduk bersama-sama mencari solusi yang tetap untuk status politik Papua. Karena saya tahu bahwa Papua tidak dilibatkan dalam proses pembuatan Perjanjian New York pada tahun 1962 itu. Dan saya bersih keras kepada PDP yang telah dipercayakan ini dengan hasil yang telah dikelola  pada Kongres Papua II, 2000 harus tetap diupayakan dan harus seperti itu, PBB, Amerika dituntut untuk harus bertanggung jawab.

 

Saya selalu katakana kepada teman atau kepada siapa saja saya ketemu sejak Otonomi Khusus Papua dicetuskan bahwa kita telah diberikan upan atau gula-gula, kita ini diibaratkan sebagai anak kecil yang diberi upan atau diberi gula-gula untuk stop,dihentikan seperti contohnya kita menangis dan orang tua kita berikan gula-gula supaya kita berhenti menangis. Kalau dikatakan bahwa Otonomi Khusus adalah suatu cara mensejahterakan dan menjawab semua persoalan yang ada di Papua  bagi saya adalah tidak benar. Sampai detik ini kita belum melihat hasil dimana masyarakat di kota, pedalaman belum diangkat dari tingkat kemiskinannya sejak Papua bergabung dengan NKRI ditambah lagi dengan kebijakan Otonomi untuk Papua ini, meskipun tujuan utama OTSUS itu adalah mensejahterakan masyarakat. Jadi menurut saya itu bukan jawaban bahwa pemberontakan atau pergolakan Papua menuntut merdeka itu semata-mata untuk perlunya pelaksanaan Otonomi Khusus, tetapi apa yang kami buat itu untuk menuntut Indonesia, PBB, Amerika  perlunya peninjauan ulang  pelaksanan PEPERA 1969, dan perlu suatu pelaksanan referendum yang adil, bermatabat yang harus dilakukan PBB untuk bangsa West Papua.

 

Saya sadar bahwa tuntutan Papua Merdeka ini memerlukan pengorbanan, dan dimana dibelaan dunia manapun namanya suatu proses perjuangan suatu Negara merdeka  pasti memerlukanpengorbanan seperti contoh nelayan yang mencari ikan dilaut untuk mendapatkan ikan pasti nelayan tersebut mendapat panas terik matahari, gelobang laut yang sangat dasyat dan hujan, tidak bisa duduk dirumah saja dan mendapat ikan.

 

Sejak masa kami, kami tidak bisa membuat apa-apa karena otoriter atau rezim pemimpin yang sangat kuat, namun buktinya kami bisa membuat sesuatu meskipun tidak menghasilkan apa-apa. Sekarang ada kesempatan peluang yang terbuka besar, untuk itu saya mau katakana pada generasi muda penerus yang tergabung dalam elemen-elemen perjuangan ini, terutama bagi adik-adik mahasiswa/I sebagai calon-calon intelek yang kita harapkan, saya percaya dan minta dengan sungguh hati supaya diupayakan, diperjuangkan dan diteruskan dengan segala pola  dan jangan takut. Kalau kita takut lebih bagus mundur dari sekarang, ketakutan itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Mari kita berjuang dengan berani, tulus pasti kita berhasil. Ilmu-ilmu yang telah dimiliki, saya minta untuk digunakan pertama, untuk kehidupan diri sendiri tapi yang kedua, untuk negeri ini.

 

 

Comments

comments

 
» ⟩ Related News, Web, Images, Videos, Books from Google
Loading
 
Berita terkait dari Google.com berdasarkan kata-kata dalam juduil berita.
   

Leave a Reply