Audryne Karma: Bebaskan Semua Tahanan Politik

Edisi 981 | 09 Jan 2015 | Sumber Artikel Ini: Perspektif Baru

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kita akan bicara mengenai Papua, dimana pelanggaran kemanusiaan sudah terjadi sejak pemisahan Papua dari Belanda pada awal tahun 1960-an. Topik ini sangat luas. Karena itu kami hanya akan mengambil perspektif dari orang yang sebagian besar hidupnya terpengaruh tragedi kemanusiaan yang terjadi di Papua. Tamu kita yang akan berbagi perspektif mengenai kondisi di Papua adalah Audryne Karma, puteri dari Filep Karma yang sudah 10 tahun lebih menjadi tahanan politik di Papua.

Audrey sebagai anak tahanan politik, menyampaikan bahwa Indonesia mengatakan ini adalah negara demokrasi dan simbol negara demokrasi adalah dia tidak punya tahanan politik, tahanan yang ditahan karena hati nurani dia yang berbicara. Jadi dia meminta kepada pemerintahan Jokowi untuk membebaskan semua tahanan politik yang ada di Papua. Apa salahnya orang Papua ketika mereka ingin berekspresi seperti aktivis Islam yang berbicara bahwa negara ini harus menjadi negara Islam. Mereka diberikan kebebasan yang besar di Jakarta. Dia berharap Jokowi membebaskan tahanan politik di Papua.

Dia juga meminta agar pemerintah Jokowi membuka akses yang seluas-luasnya untuk Papua, baik nasional maupun internasional untuk meliput semua yang ada di Papua. Papua adalah daerah yang sangat kaya dan masyarakatnya juga sangat kaya dengan budaya. Indonesia harus berani membuka akses Papua seluas-luasnya sehingga dunia internasional melihat seperti apa Papua. Jika Papua terus ditutup, apa bedanya ketika masyarakat Papua tetap didiskriminasi di negara kami sendiri.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan narasumber Audryne Karma dan sebagai pewawancara Wimar Witoelar. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapat pula dilihat pada situs http://www.perspektifbaru.com. Lewat situs tersebut Anda dapat memberikan komentar dan usulan.

Anda adalah putri dari Filep Karma, seorang aktivis yang secara damai menyuarakan tentang Papua, dan sudah ditahan sejak 1 Desember 2004. Sehubungan aktivitas ayah Anda, sejak kapan Anda sadar bahwa di keluarga Anda ada anggota keluarga yang tidak disukai oleh pemerintah?

Tadinya bapak saya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil di Jayapura, Papua. Namun, pada Juli 1998 pertama kali bapak menaikkan bendera Bintang Kejora yang dilarang di Papua, sejak itu kami mulai merasa terisolasi dengan lingkungan.

Bagaimana kehidupan Anda dengan ayah yang sebagian besar hidupnya tidak bersama Anda? Apakah ada kontak atau tidak dengan ayah?

Masa kecil saya bersama bapak terakhir adalah ketika saya lulus sekolah dasar (SD). Sejak sekolah menengah pertama (SMP) sampai sekarang, sejak dia aktif menyuarakan suara di Papua sejak itu kami jarang bersama. Itu karena sejak saat itu bapak mulai keluar masuk penjara. Puncaknya pada 2004 yang dipenjara cukup lama sampai sekarang.

Sejak 2004 sampai sekarang sudah lebih dari 10 tahun. Apakah sejak saat itu Anda pernah bertemu ayah?

Hanya sesekali bertemu. Tapi tidak hidup bersama.

Bagaimana dampak dari perjuangan, penderitaan, penekanan yang ayah Anda alami di Papua pada pandangan hidup Anda? Apa Anda ikut terlibat atau Anda marah kalau ada orang tidak mengerti masalah Papua?

Terus terang untuk kasus bapak, saya dengan adik sangat sensitif. Kami sangat sensitif ketika ada orang yang bertanya atau apapun yang berkaitan dengan bapak dan keluarga. Kami sangat sensitif dan cukup tertutup untuk membicarakan itu. Kemudian sejak saya kuliah dan hidup merantau, saya pikir itulah proses yang membuat saya menjadi pribadi yang lebih terbuka.

Saya juga melihat sendiri bahwa banyak teman mahasiswa Papua yang sekolah merantau di Jawa mengalami diskriminasi karena mereka berbeda. Itu yang membuat saya kemudian mengerti mengapa bapak saya berjuang, mengapa dia berteriak, mengapa dia bersuara atas nama ketidakadilan untuk orang Papua di Indonesia.

Mungkin Audryne perlu tahu bahwa banyak yang bersimpati pada perjuangan Papua, tapi banyak juga yang tidak tahu dimana ketidakadilannya dan apa yang mereka bisa bantu. Saya sering mengikuti perkembangan mengenai Papua dan sudah lama ikut merasakannya. Saya juga pernah dekat pada masalah ini karena pada 2001 menjadi juru bicara Presiden Gus Dur. Gus Dur sangat dekat sekali dengan Theys Hiyo Eluay (Ketua Presidium Dewan Papua – Red), bahkan sewaktu kejadian Theys dibunuh, Gus Dur sangat banyak memberi perhatian termasuk masalah yang terjadi di Papua. Saya mengharapkan kalau Gus Dur terus memperhatikan Papua maka masalah ini akan cepat selesai. Sayang, Gus Dur dijatuhkan dan yang menggantinya beda pendapat. Saya pikir ini hanya masalah waktu saja Papua akan mendapat keadilan, tapi saya melihat malah makin tenggelam saja waktu itu. Apakah betul tenggelam sejak bapak ditahan pada 2004 sampai sekarang, adakah inisiatif pemerintah untuk mengatasi persoalan ini?

Untuk saya pribadi sebagai orang Papua, saya pikir sosok pemimpin Indonesia yang benar-benar menyentuh hati orang Papua adalah Gus Dur. Waktu itu saya masih SMP, yang saya ingat dari sosok Gus Dur adalah dia presiden pertama yang mengganti nama Irian menjadi Papua. Itu sangat berarti sekali untuk orang Papua.

Saat SMP saya ingat ketika Gus Dur menyetujui dan mengatakan bahwa bendera ini berkibar sebagai simbol budaya orang Papua. Saya ingat saat SMP ketika pulang sekolah melihat bendera Indonesia dan Papua berkibar bersebelahan.

Kapan bendera Bintang Kejora menjadi benda asing lagi?

Sejak Gus Dur diturunkan dan Megawati naik. Tiang bendera itu sudah tidak ada lagi sekarang, dipotong supaya menghilangkan sejarah. Tapi sempat zaman Gus Dur bendera itu berkibar.

Adakah teman-teman sesama aktivis menerima keberadaan Bintang Kejora ataukah di Papua hal itu masih menjadi kontroversi?

Saya sendiri sebenarnya tidak begitu mendalami tentang masalah Papua Merdeka. Saya pikir bapak dan aktivis Papua lain yang lebih punya banyak wawasan tentang Papua Merdeka. Tapi yang saya tahu dan saya alami adalah Bintang Kejora itu seperti satu sejarah atau nilai tersendiri untuk kami.

Adakah perubahan sejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)?

Dari zaman Megawati sampai SBY, saya sebagai orang Papua kecewa karena banyak janji-janji untuk orang Papua. Mulai dari pemberian otonomi daerah, kemudian juga SBY melanjutkan, tapi semua itu sepertinya tidak memberi dampak yang luas untuk banyak masyarakat Papua, justru malah menjadi tenggelam, dan malah kesejahteraannya itu tidak ada untuk orang Papua.

Sebenarnya besar harapan orang Papua kepada pemerintahan Jokowi, apalagi kemarin dia sempat merayakan Natal dan berkunjung ke Papua selama tiga hari.

Saya mendapatkan pesan dari bapak saya, dia sangat berharap bahwa Jokowi jangan hanya meninggalkan janji seperti pemerintah yang dulu, tapi juga melaksanakan janji-janji itu, atau bisa saja melaksanakan janji tapi dilakukan di akhir pemerintahan dia, jadi seolah-olah sama saja. Jadi besar sekali harapan kami bahwa ketika dia berjanji maka mewujudkan janji itu.

Tadi Audryne Karma baru saja menyampaikan pesan yang sangat penting, yang berasal dari ayahnya Filep Karma. Kami juga merasa terhormat saat mengetahui Anda melaporkan pada ayah bahwa Anda akan diwawancara Perspektif Baru, dan saya berharap acara ini berguna. Apakah bisa diulangi lagi pesan ayah Anda?

Bapak saya memberi pesan bahwa kedatangan Jokowi kemarin banyak sekali memberikan janji pada orang Papua. Poin besarnya adalah dia berjanji memperhatikan kesejahteraan ekonomi di Papua. Dia menghimbau pada para OPM di gunung, mari sama-sama kita berdamai. Jadi sebagai aktivis Papua, ayah saya berpesan bahwa tolong Jokowi menepati janji-janji yang sudah dikatakan pada orang Papua.

Intinya, Jokowi jangan hanya berjanji. Namun, Jokowi masih bisa diharapkan karena ada beberapa hal yang sudah dia laksanakan. Yang terkait dengan kasus ini yaitu dia berjanji akan melihat kasus-kasus hak asasi manusia (HAM) satu per satu, dan beberapa minggu lalu Jokowi memberikan grasi kepada Eva Bande, aktivis lahan yang ditahan dan kini sudah dibebaskan. Melalui wawancara Perspektif Baru, kita mengharapkan Jokowi tidak hanya janji karena di sini ada Audreyne Karma, puteri Filep Karma, yang sudah menunggu 10 tahun lebih keadilan dari pemerintah. Jadi kita hidup di alam dimana kita percaya pada janji, mungkin kita dikecewakan tapi tidak boleh kecewa sebelum mencoba. Apa lagi yang ingin Anda sampaikan kepada pemerintahan Jokowi mengenai hal ini?

Ada dua pesan lagi yang saya ingin sampaikan. Ini pesan saya sebagai orang Papua dan saya pikir seluruh lapisan masyarakat Papua.

Satu, yang saya minta sebagai anak tahanan politik, Indonesia mengatakan ini adalah negara demokrasi dan simbol negara demokrasi adalah dia tidak punya tahanan politik, tahanan yang ditahan karena hati nurani dia yang berbicara. Jadi saya meminta kepada pemerintahan Jokowi untuk membebaskan semua tahanan politik yang ada di Papua. Apa salahnya orang Papua ketika mereka ingin berekspresi seperti aktivis Islam yang berbicara bahwa negara ini harus menjadi negara Islam. Mereka diberikan kebebasan yang besar di Jakarta. Saya berharap Jokowi membebaskan tahanan politik di Papua.

Kedua, buka akses yang seluas-luasnya untuk Papua, baik nasional maupun internasional untuk meliput semua yang ada di Papua. Papua adalah daerah yang sangat kaya dan masyarakatnya juga sangat kaya dengan budaya. Indonesia harus berani membuka akses Papua seluas-luasnya sehingga dunia internasional melihat seperti apa Papua. Jika Papua terus ditutup, apa bedanya ketika kami tetap didiskriminasi di negara kami sendiri.

Mengenai pendapat dan pikiran Filep Karma lebih lengkap bisa dilihat di buku yang berjudul “Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di Tanah Papua” yang diluncurkan belum lama ini.

Itu tadi adalah suara dari Audryne Karma, seorang dokter gigi dari Universitas Padjajaran (Unpad), dan anak dari Filep Karma yang sudah 10 tahun lebih menjadi tahanan politik di Papua. Dari saya, saya mendukung bahwa Indonesia tidak pada tempatnya mempunyai tahanan politik, apalagi orang yang merusak dasar negara dibiarkan berlalu lalang. Tidak boleh ada tahanan politik di Papua, hanya tahanan kriminal saja. Terima Kasih

Comments

comments

 
» ⟩ 5 More Tagged:
  • No related posts found
   
» ⟩ Related News, Web, Images, Videos, Books from Google
Loading
 
Berita terkait dari Google.com berdasarkan kata-kata dalam juduil berita.
   

Leave a Reply