The World Until Yesterday, What We Can Learn From Traditional Societies

- Catatan dan Komentar Sem Karoba

Buku ini setebal 500 halaman (dari cover depan sampai cover belakang). Saat saya genggam, tangan saya hampir penuh. Isinya tentang pelajaran-pelajaran yang dapat manusia modern petik dari peri kehidupan orang Papua.

Dalam buku ini Jared Diamond tidak menunjukkan kehidupan indah dan menawan dari MADAT Papua, akan tetapi ia bertujuan menunjukkan kepada manusia sedunia bahwa semua manusia di muka Bumi pernah hidup di zaman Batu dan zaman itu barusan berakhir atau berubah "kemarin" (belum lama ini). Ia sendiri menjadi saksi mata dari perubahan itu, dan malah terlibat di dalam perubahan itu sendiri.

Dalam buku ini ia menantang sidang pembaca bahwa peradaban MADAT yang dijelaskannya bukanlah sesuatu untuk dijadikan romantisme kembali kepada kehidupan semula, tetapi paling tidak menjadi pelajaran yang bermanfaat untuk mengakui kelemahan yang dimiliki peradaban modern dan kemungkinan pembenahan yang dapat dilakukan.
Ia menunjukkan prinsip, sistem dan pola kehidupan yang patu dipelajari dan dijadikan patokan untuk kehidupan kita saat ini dan hari esok. Ia tidak menyarankan perubahan menuju kepada kehidupan MADAT, tetapi ia menyatakan bahwa apa yang kita miliki atau kehidupan yang kita jalani saat ini bukanlah sebuah karya manusia yang berlangsung lama. Justru kehidupan MADAT New Guinea-lah yang telah ada puluhan ribu tahun lamanya, dan kehidupan modern dengan serba-ada seperti saat ini hanyalah berusia ratusan tahun. Oleh karena itu patutlah kita sebagia manusia masakini menjadikan pelajaran-pelajaran dari perikehidpuan MADAT untuk menjadi sumber inspirasi dalam membentuk masadepan kita.

Diamond doesn't romanticize traditional societies—...—but he finds that their solutions to universal human problems such as child rearing, elder care, dispute resolution, risk, and physical fitness have much to teach us. [The World Until Yesterday: What Can We Learn from Traditional Societies? by Jared Diamond ], dapat diakses di <http://www.goodreads.com/book/show/15766601-the-world-until-yesterday>

[Artinya: Diamond tidak meromantisir MADAT - tetapi ia menemukan bahwa solusi yang mereka miliki untuk persoalan manusia secara universal seperti membesarkan anak, memelihara lanjut usia (orang tua), penyelesaian konflik, resiko dan kekekaran fisik menjadi pelajaran yang berarti untuk kita]

Most of us take for granted the features of our modern society, from air travel and telecommunications to literacy and obesity. Yet for nearly all of its six million years of existence, human society had none of these things. While the gulf that divides us from our primitive ancestors may seem unbridgeably wide, we can glimpse much of our former lifestyle in those largely traditional societies still or recently in existence. Societies like those of the New Guinea Highlanders remind us that it was only yesterday—in evolutionary time—when everything changed and that we moderns still possess bodies and social practices often better adapted to traditional than to modern conditions. (ibid.)

[Artinya: Kebanyakan kita terima begitu saja pola hidup masyarakat modern, dari perjalanan udara sampai telekomunikasi, dari literasi sampai obesitas. Akan tetapi dari sejarah keberadaannya selama tiga juta tahun, manusia tidak memiliki semua ini. Jurang pemisah antara kita dengan moyang MADAT kita kelihatannya besar, kita bisa menyimak sedikit dari pola hidup sebelumnya itu dari masyarakat tradisional yang masih ada saat ini atau baru-baru ini ada. Masyarakat seperti mereka di pegunungan New Guinea mengingatkan kita bahwa hanya baru kemarin - dalam istilah evolusioner - telah terjadi perubahan-perubahan dalam segala hal dan bahwa kita orang modern masih memiliki tubuh kita dan praktek sosial kita yang lebih cocok teradaptai dalam MADAT daripada kondisi modern.]
Komentator di sini bermaksud ada sejumlah praktek serta kebutuhan tubuh kita sendiri yang lebih cocok teradaptasi ke dalam pola kehidupan MADAT daripada pola kehidupan modern. Secara alamiah, cara membesarkan anak kecil dan cara memelihara orang tua di tengah-tengah masyarakat modern sangat tidak manusiawi, tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia, tetapi dirancang sedemikian mekanik sehingga tidak tepat untuk kehidupan manusia sejati secara biologis.

Saya sendiri telah temukan beberapa penyakit di dunia barat yang tidak pernah ada di tengah-tengah orang Papua, yaitu pertama dan terutama depresi. Depresi memuncak dalam kehidupan modern, tetapi sama sekali tidak ada dalam MADAT. Kehidupan yang "caring" dan "sharing", saling memperhatikan dan saling berbagi memang perlu dipelajari masyarakat modern.

Contoh kecil saja, semenjak anak kecil lahir di masyarakat modern maka anak kecil sudah diberi tempat tidur sendiri, dibiarkan tidur, bangun dan makan sendirian. Apalagi kini orang tua si anak pergi ke kantor, maka anak kecil dipelihara oleh si pengasuh, yang sering memperlakukan anak kecil tidak seperti seorang ibu atau ayah. Seorang bayi di tengah MADAT sangat berbeda. Ia lahir lalu sudah ada di pelukan ibunya, tidur bersama ibunya, digendong oleh kakaknya atau tantenya, diberi air susu ibu selama beberapa bulan bahkan beberapa tahun. Sebagai seorang manusia yang barusan lahir, hubungan yang dibangun semenjak bayi sangat menentukan kemanusiaan si bayi setelah ia besar.

Saya temukan semua anak di dunia barat tidak lagi tinggal serumah dengan orang tuanya setelah mereka mencapai usia 18 tahun. Usia sedetik saja sudah tidak tinggal satu tempat tidur. Usia satu tahun sudah tidak tinggal di satu kamar tidur. Usia 18 tahun sudah tidak satu rumah.

Mereka juga tidak menyapa, bersikap ataupun menyurat kepada orang tua mereka seperti yang kita lakukan. Mereka memperlakukan orang tua seperti dan sama dengan orang lain. Pacar mereka atau isteri mereka justru menjadi pujaan hidup mereka, orang tua mereka sama sekali dikesampingkan. Bahkan orang tua yang hendak datang ke rumah si anak pun haris lewat "booking" dahulu, bukan datang tiba-tiba seperti pengalaman dan kebiasaan kita di New Guinea.

Sama dengan orang tua "melempar" anak berusia sedetik ke tempat tidur sendiri, anak-anak membalas orang tua mereka, "melempar si lanjut usia" ke pantai asuhan para jompo. Mereka tinggal di sana sampai titik darah penghabisan. Anak-anak mereka-pun datang bukan untuk menghibur dan membantu, tetapi hanya untuk memberitahu "Hi, how are you?" setelah itu mereka lanjut dengan kehidupan mereka, membiarkan si lansia menonton dan mengenak masa hidupnya di pantai jompo.

Comments

comments

 
» ⟩ Related News, Web, Images, Videos, Books from Google
Loading
 
Berita terkait dari Google.com berdasarkan kata-kata dalam juduil berita.
   

Leave a Reply