POLDA PAPUA PEDULI KEAMANAN WARGA

- KNPB Siap Diperiksa Terkait Aksi Anarkis di Waena yang Menewaskan Satu Warga

Mako Tabuni Siap Diperiksa

Mako Tabuni Siap Diperiksa

JAYAPURA - Menyusul aksi anarkis yang berbuntut tewasnya satu warga, Dedy Kurniawan (25) diduga kuat dilakukan ratusan orang dari kelompok Komite Nasional Papua Barat, Mako Tabuni penanggung jawab organisasi yang belum terdaftar di Kesbang/Linmas itu menyatakan siap dimintai keterangan oleh pihak Kepolisian.
‘’Kalau diminta pertanggungjawaban, KNPB siap diperiksa terkait aksi pengrusakan dan tewasnya salah satu warga di Waena, yang terjadi Rabu 2 Mei malam. Namun, keterangan akan diberikan setelah Polisi melakukan olah TKP,’’ujar Mako Tabuni kepada wartawan saat mendatangi Polda Papua, Kamis 3 Mei.

Lanjut Mako, pihaknya baru bersedia memberikan keterangan kepada Polisi, karena yang bertindak anarkis, brutal dengan cara melempari kendaraan serta perkantoran dan juga melakukan pengeroyokan terhadap warga, adalah keluarga korban. ”Saya melihat sendiri bahwa massa yang mengamuk adalah keluarga Theoreli Karoba, bukan massa KNPB,”terangnya.
Theoreli Karoba, mahasiswa STIE Port Numbay Semester 6 tewas saat pulang dari aksi unjuk rasa yang digelar KNPB di Jayapura 1 Mei dalam rangka menuntut kemerdekaan Bangsa Papua. Ia diduga ditembak di bagian perut saat duduk di atas atap truk yang mengangkut massa (bukan terkena proyektil di Makam THeys sebagaimana diberitakan sebelumnya). Di dalam perutnya ditemukan proyektil. Korban yang tinggal di Asrama Mahasiswa Tolikara kemudian dimakamkan di Kampung Waena. Tindakan anarkis kemudian pecah, usai prosesi pemakaman.

Masih kata Mako, saat massa mengamuk, semua warga yang ada di sekitar lokasi terjadinya tindakan anarkis lari pontang panting. “Bukan hanya warga pendatang yang berhamburan lari menyelamatkan diri, tapi juga orang asli Papua juga lari masuk ke lorong-lorong,’’ ungkapnya. Beruntung, sambung Mako, pihak Kepolisian dengan cepat mampu meredam aksi anarkis massa. “Aksi massa bisa kendalikan polisi dengan cepat, sehingga tidak melebar kemana-mana,’’tutur dia. Namun Mako mengakui, sejak proses pemakamam jenazah, emosi massa sudah makin tak terkendali terutama setelah pemalangan jalan akses Jayapura-Sentani. ”Rakyat mulai tak terkendali setelah proses pemakaman, apalagi saat itu suasana sudah gelap. Saya sudah berupaya mengendalikan, tapi tidak bisa,’’ ucapnya.

Namun tandas Mako lagi, massa yang bertindak anarkis bukan massa KNPB tapi dari pihak keluarga korban. ‘’Keluarga korban yang ikut campur dan mereka yang bertindak anarkis,’’paparnya.
Mengenai kematian Theoreli Karoba, Mako memastikan, ia ditembak dengan senjata canggih. ‘’Korban ditembak saat duduk di atas atap truck, ia diperkirakan ditembak dari arah depan kemudian jatuh ke bak truk. Lokasi penembakan di daerah Padang Bulan tepat di depan Marks Korem,’’ jelasnya.

Menurut Mako, pihaknya memastikan korban ditembak, karena di tubuhnya ditemukan timah yang menyerupai proyektil. ‘’Ada timah ditemukan di perut bagian bawah, ini yang menguatkan korban ditembak,’’paparnya. Korban ditembak dengan senjata canggih, karena saat itu sama sekali tidak ada terdengar suara tembakan. ‘’Sama sekali tidak ada suara letusan, tiba-tiba korban sudah terkapar dengan bersimbah darah,’’ucapnya.

Saat ini, tambahnya, pihak Polda Papua sudah mengambil proyektil yang ditemukan ditubuh korban untuk kemudian dikirim ke Puslabfor. “Barang bukti proyektil akan di uji balistik, kami ingin memastikan itu peluru dari senjata apa. Namun kami tidak butuh pertanggungjawaban karena orang Papua tidak pernah mendapat keadilan,’’ singkatnya.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Papua Kombes Pol Wachyono di dampingi AKBP Johannes Nugroho Wicaksono saat ditemui wartawan menjelaskan, bahwa pihaknya sedang melakukan penyelidikan terhadap penembakan Terjoli Weya.
”Kami serius menangani kasus penembakan ini, dan sedang meminta keterangan dari sejumlah saksi,’’ucapnya.

Menurutnya, ada dua saksi yang kini sedang di mintai keterangan oleh penyidik, yakni Direktur Rumah Sakit Dian Harapan dr Jhon Faat dan teman korban di mobil Yance Weya. Pimpinan Rumah Sakit Dian Harapan dimintai keterangannya, karena menemukan ada satu proyektil di tubuh korban.
”Dokter RS mengungkapkan, ada luka robek di kanan perut korban. Dan ketika di otopsi ditemukan proyektil berbentuk lempengan logam sebesar 1,5 CM,” tukasnya.

Keterangan Yance (saksi) yang hingga masih di mintai keterangan, saat peristiwa terjadi, dia berada di jalan di daerah USTJ tidak jauh dari Koorem. Melihat korban terjatuh dari bagian atas kepala mobil ke bak mbil. Lantas korban dilarikan ke rumah sakit guna mendapat perawatan. Saat dibedah ditemukan proyekil bentuk lempengan tidak beraturan sebesar 1,5 CM.
Polisi saat ini menyita baju merah yang di gunakan korban dan proyektil yang sudah di kirim ke Jakarta untuk di uji balestik. Kepolisian juga mengaku kesulitan mencari mobil truk yang saat itu di gunakan oleh korban dan saksi.
Terkait aksi anarkis massa yang merusak kendaraan dan perkantoran serta menewaskan satu warga, kata Wachyono, saat ini pihaknya juga masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi para pelaku. ‘’Kami memanggil penanggung jawab KNPB untuk mengumpulkan data-data lapangan, guna mengungkap pelaku anarkis,’’tegasnya.(jir/don/l03)

Comments

comments

» ⟩ More and Related News

» ⟩ 5 More from Related Category: Papua Merdeka
   
» ⟩ 5 More Tagged:
  • No related posts found
   

Leave a Reply

» ⟩ Related News, Web, Images, Videos, Books from Google
Loading
 
Berita terkait dari Google.com berdasarkan kata-kata dalam juduil berita.