JAYAPURA-Minimnya perhatian pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan bahasa daerah di Papua, mengancam punahnya keberadaan bahasa tersebut. Kondisi ini semakin diperparah dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti dari Balai Bahasa Jayapura, yang menyebutkan mulai ada keengganan dari sebagian masyarakat adat untuk menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa komunikasi.

Kepala Balai Bahasa Jayapura Drs. Supriyanto Widodo, M.Hum, mengatakan, untuk menyikapi hal ini dan mengangkat kembali bahasa daerah sebagai bahasa komunikasi masyarakat adat, diperlukan perhatian pemerintah daerah dan masyarakat sebagai penuturnya.

“Yang terjadi selama ini kurang ada kepedulian dari Pemda untuk melestarikan kekayaan bahaya daerah yang dimilikinya. Seperti halnya di Biak terdapat beberapa bahasa daerah biak namun sekarang ini hampir tidak terdengar lagi masyarakat setempat menggunakan bahasa daerah untuk percakapan antar masyarakat sendiri,” ujarnya saat ditemui Cenderawasih Pos di ruang kerjanya, Jumat (17/4).

Dikatakan, dalam UU Otonomi Khusus Nomor 21 Tahun 2001, dimana salah satu pasalnya mengamanatkan kepada pemerintah daerah berkewajiban memelihara dan melestarikan bahasa daerah demi jati diri daerah. “Sayangnya, amanat UU Otsus itu belum diimplementasikan oleh masing-masing pemda,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Selain kurang mendapat perhatian dari pemda, Supriyanto juga menyesalkan adanya sebagian masyarakat pemilik bahasa daerah yang mulai memiliki pandangan negatif terhadap bahasanya sendiri. “Berkomunikasi dengan bahasa daerahnya sendiri bukan lagi dianggap sebagai kebanggaan, justru yang ada hanya perasaan gengsi,”tambahnya.

Padahal, bahasa daerah menurutnya, merupakan unsur kekayaan budaya bangsa, sekaligus sebagai benteng pertahanan dan keberagaman budaya bangsa. Tanpa adanya bahasa daerah, maka bangsa ini tidak memiliki kekayaan budaya.

Karena itu, untuk melestarikan bahasa daerah, Supriyanto menyarankan agar setiap keluarga atau masyarakat setempat harus menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. (mud)

Popularity: 4% [?]

This entry was written by admin, posted on Maret 6, 2010 at 11:12 am, filed under Penghianat and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.  Share & Bookmark


No Responses to “Papua Merdeka Hanya Mimpi”

  1. Silahkan baca komentar Amunggut Tabi, SekJend TRWP dan Forkorus Yaboisembut, Ketua DAP

Write A Comment

You must be logged in to post a comment.


Copyright © 2010 - Suara Papua Merdeka . All rights reserved.
WoodocsLight Theme - By KOTEK@Webmaster. - Style based on YUI Docs & Theme Functions from Blog.txt
Powered by WordPress Entries (RSS) and - Comments (RSS) -