enyambut kedatangan Tokoh Papua Merdeka dan pencetus Bintang Kejora serta Lambang Papua Barat Burung Mambruk (maaf, bukan pencetus OPM seperti dilansir media-media Indonesia karena OPM punya sejarah tersendiri daripada sejarah yang diciptakan Nicolaas Jouwe dkk.) dan menanggapi berbagai pertemuannya dengan tokoh Papindo (Papua – Indonesia) di dalam negeri, SPMNews menyempatkan diri mewawancarai SekJend TRPB (Tentara Revolusi Papua Barat) Amunggut Tabi per Email.
Dikatakannya secara singkat bahwa, “Benar kami ada dalam sejarah yang sudah dibangun para kakek kami, tetapi saat ini kami ada di era sekarang untuk masa depan, sementara Nicolaas Jouwe, Fransalbert Joku dan Nick Messet adalah bagian dari sejarah. Tetapi tidak salah dan memang keharusan bagi kami untuk selalu menengok ke sejarah agar pertama membantu kami memantapkan langkah ke depan, dan kedua agar kita tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan. Maka, sebenarnya mereka bukan bagian dari hari ini. Biarkan NKRI berurusan dengan hari kemarin, padahalan hari ini sudah harinya dengan fenomena dan kelanjutan perjuangan yang berbeda pula. Makanya bangsa Papua dan generasi sekarang jangan tinggal dalam sejarah, karena kita berada saat ini untuk masa depan.”
Berikut petikan wawancara singkat per email pada hari ini.
SPMNews: Bapak sudah mendengar berita tentang kedatangan tokoh Papua Merdeka, Nicolaas Jouwe, diantar dan dikawal ketat oleh petugas keamanan NKRI, apa tanggapan TRPB?
TRPB: Tidak ada tanggapan serius. Beliau kami hargai dan tempatkan sebagai satu-satunya tokoh Papua Barat di era 1960-an yang sendirian secara gigih memperjuangkan Papua Merdeka, dan itu fakta sejarah yang kami banggakan dan kami jadikan sebagai panutan.
Selanjutnya, kalau petugas keamanan NKRI mengawal beliau, sudah jelas menunjukkan mereka menghargai perjuangan Papua Merdeka, makanya tokoh-tokohnya malahan dikawal. Itu sebuah kebanggaan tersendiri. Cuman kenapa mereka tidak bisa mengawal kami juga dalam perjuangan lanjutannya?
SPMNews: Khusus tentang pengawalan ketat tadi, yang kami maksud adalah ada isi bahwa kalau Tete Jouwe dikawal NKRI, berarti beliau sudah satu kereta dengan Fransalbert Joku dan Nick Messet, ada dalam paket pemulangan tokoh Papua Merdeka, makanya ada pemuda Papua yang mendemo beliau supaya bertanggungjaweab.
TRPB: Pengawalan ketat itu bukan dilakukan karena beliau menyerah kepada NKRI. Beliau datang sebaga mantani tokoh Papua Merdeka. Maksud kedatangannya melihat tanah airnya. Semua orang, biar siapapun, orang Indonesia yang ada di mana-pun, sebagai manusia, merindukan tanah-airnya itu hal yang wajar. Beliau dikirim secara resmi dan datang sebagai seorang penasehat dari Kerajaan Belanda, jadi pengawalan ketat itu tugas NKRI karena beliau warga negara asing, memegang Pasport Belanda.
Dengarkan saja kata-katanya. Beliau memuji NKRI atas perubahan paradigma dalam menangani Papua Barat. Hanya sampai di situ. Beliau tidak mengatakan hentikan perjuangan Papua Merdeka. Tidak ada himbauan untuk kami menghentikan perjuangan Papua Merdeka.
Kami sudah bertemu dengan beliau Mei 2000 dan pernah bercakap selama dua hari penuh semalam suntuk. Keinginan untuk beliau kemari sudah beliau sampaikan, sampai kepada cerita beliau akan dikuburkan di mana, dan sebagainya sudah disampaikan secara resmi dan sudah menjadi catatan kami untuk masa depan. Waktu itu beliau berkirim surat ke Alm. Theys Eluay, pesawat sudah disiapkan, Ratu Belanda sudah menyiapkan pasukan pengawal dan segala protokolernya sudah beres, tetapi Theys Eluay menolaknya. Atas penolakan itu, beliau katakan, “Theys Eluay akan dibunuh oleh NKRI sendiri tidak lama lagi, dan saya akan hidup sampai Papua Merdeka, dan NKRI akan memberikan Otonomi kepada Papua Barat dan setelah itu saya akan datang. Setalah itu baru Papua akan merdeka.” Nubuatan sudah ada, jadi ini bukan hal mengejutkan bagi kami. Tetapi malahan mengukuhkan langkah kami untuk terus maju.
Menyangkut demo pemuda Papua, itu wajar saja ungkapan seorang cucu kepada kakeknya. Tetapi sekarang beliau sudah kakek. Mereka yang berdemo itu sedang menunjukkan kepada kakek mereka bahwa bibit perjuangan yang telah ditaburkan sudah bertumbuh dan berbuah. Hasil pertumbuhan itu adalah mereka sendiri. Kalau tidak ada demo, maka beliau akan merasa gagal menanam bibit. Tetapi karena ada demo, maka beliau berbagangga sekali, bahwa perjuangannya akan berlanjut dan akan membuahkan hasil.
SPMNews: Walauapun pengartian peristiwa-peristiwa ini sangat berbeda dengan apa yang kami tangkap di sini, biar saja kami lanjut ke point lain, yaitu tentang pertemuan beliau dengan Aburizal Bakrie, seorang menteri NKRI. Apakah seorang tokoh OPM pantas bertemu seperti itu?
TRPB: Seperti sudah jelas tadi Nicolaas Jouwe adalah seorang pencipta sejarah dan tokoh Papua Merdeka (maaf, bukan pencetus OPM, karena OPM punya sejarah sendiri dan berbeda, sementara Nicolaas Jouwe berangkat dari rumah perjuangan yang berbeda pula, walaupun akhirnya mereka bertempat tinggal serumah). Beliau menjadi bagian dari sejarah dan oleh karena itu bertemu dengan siapa saja adalah haknya sebagai seorang manusia. Beliau bertemu dengan Pak Bakrie itu sebagai seorang manusia Papua, seorang kakek dari Tanah Papua, dan lebih penting dari itu, seorang MANTAN tokoh perjuangan Papua Merdeka.Sebagai seorang tokoh Papua Merdeka kami sangat banggakan, dan sebagai pencetus Bintang Kejora serta Lambang Burung Mambruk kami tetap bela sampai titik darah penghabisan. Tetapi pertemuannya dengan Pak Bakrie adalah bagian dari beliau sebagai manusia Papua yang ingin mengecek langsung apa saja yang dilakukan manusia Indonesia terhadap manusia Papua di tanah air kami.
SPMNews: Menurut rilis berita baru-baru ini di Port Numbay, beliau merasa puas atas apa yang dilakukan NKRI sejauh ini. Bagaimana pendapat Anda?
TRPB: Bukan, Anda salah tangkap. Beliau berterimakasih kepada Baas Suebu, itu pejabat NKRI tetapi orang Papua, putra Papua. Jadi, terimakasih ditujuan justru karena Pak Baas itu anak Papua, bukan karena beliau kaki-tangan NKRI di Tanah Papua.
SPMNews: Maksud kami, kalau beliau sudah berterimakasih begitu, dan apalagi beliau katakan, “Saya hanya dengan kata-kata memperjuangkan bangsa Papua, tetapi Baas Suebu sudah melakukannya di lapangan,” berarti apa yang dilakukan Baas dan barisan Papindo itu dipujinya.
TRPB: Anda masih salah memahami antara apa yang dikatakan dan apa yang terjadi. Konteks pemikiran dan pembahasan itu perlu diperhatikan. Apa yang dikatakan Fransalbert Joku sebagai seorang mantan wartawan di PNG dan pecinta NKRI itu berbeda sama sekali daripada apa yang dikatakan langsung oleh Tete Jouwe. Fransalbert Joku dan Nick Messet serta Baas Suebu jelas mau memanfaatkan ini untuk menginjak-injak perjuangan Papua Merdeka, tetapi itu langkah keliru. Itu penerjemahan maksud dan niat Nicolaas Jouwe yang salah, sebuah penghianatan terhadap niat baik beliau.
Yang dikatakan Jouwe adalah: (1) Pertama, beliau meminta NKRI memberi izin, mengawal dan mengunjungi tanah kelahiran, tanah leluhur dan tanah-air yang deminya ia telah lama bersusah-payah memperjuangkan, sebagai seorang Ondofolo tetapi meninggalkan kampung-halamannya selama puluhan tahun, di mana rakyat Kayo Pulo tinggal tanpa pempimpin; (2) Kedua, beliau datang dan secara konsisten katakan, “Saya datang sebagai seorang pribadi, seorang Nicolaas Jouwe ingin melihat tanah air saya,”; (3) Ketiga, ia bertemu dengan menteri yang mengurus kesejahteraan masyarakat, bukan Menlu, bukan Mendagri, bukan menteri Percepatan pembangunan, bukan menteri Kelautan yang orangnya berasal dari Papua Barat; (4) Di Numbay beliau bertemu Baas Suebu dan memuji Baas sebagai pelaksana semua impiannya.
Beliau bukan seorang aktivis Papua Merdeka, tetapi seorang negarawan Papua Barat, tidak sama dengan NIck Messet dan Fransalbert Joku, yang berada di Luar Negeri bukan untuk Papua Merdeka, tetapi pulang ke Papua Barat dengan kleim sebagai tokoh OPM. Negawaran tahu apa yang dilakukannya, apa yang dikatakannya, dengan siapa yang bertemu, di mana dia tidur dan makan-minum, serta lebih penting, mereka tahu apa yang tidak boleh dikatakan dan dilakukannya. Dan ini semua jelas-jelas ditunjukkan Teta Jouwe dengan baik. Tidak ada yang salah dengan kedatangan ini.
Kita harus memiliki dua mata, mata fisik dan mata hatinurani. Juga telinga fisik dan telinga hatinurani. Kita harus terjemahkan apa yang terjadi ini bukan secara fisik atas apa yang dikatakan NKRI dan Fransalbert Joku yang jelas-jelas bukan orang yang mencintai tanah-airnya.
Sudah dikatakan tadi, beliau sudah merencanakan semua ini, dan niatnya itu sudah kami tahu sejak sepuluh tahun lalu. Bahkan sampai setelah beliau meninggal-pun sudah kami rencanakan bersama. Apa lagi yang kami tidak tahu?
Jadi, biarkan Fransalbert Joku yang tiba-tiba baru tahu bersama NKRI-nya tabrak tembok. Toh kami masih di tanah sendiri, masih makan-minum, masih hidup, kami tidak akan lari, kami masih ada di sini.
SPMNews: Kami mau tahu secara mendalam tentang “Apa yang dipahami TRPB dengan kedatangan ini?”
TRPB: Kedatangan Nicolaas Jouwe sebagai satu-satunya penjuang Papua Merdeka di New Guinea Raad, pencetus Bintang Kejora sebagai Bendera Nasional dan Burung Mambruk sebagai Lambang Negara Papua Barat serta nama Negara Bukan Papua Barat, tetapi West Papua, seperti tertulis dalam Lambang Negara Burung Mambruk itu bermakna sangat positive dan menjanjikan. Dengan mencium tanah itu, ada sesuatu telah terjadi, yang tidak dilihat dengan mata-fisik, dengan menginjak kaki ke tanah itu sudah terjadi sesuatu yang Anda tidak lihat atau rasakan, dengan berbicara di tempat yang pernah ia teriakkan Papua Merdeka seorang diri hampir limapuluh tahun lalu itu memiliki dampak yang dahsyat, bukan main-main.
Di dunia tidak kasak mata, telah terjadi kejadian-kejadiaan yang maha dahsyat, yang tidak Anda ketahui.
SPMNews: Bapak mau katakan bahwa kemerdekaan Papua Barat sedang dipercepat oleh kedatangannya?
TRPB: Tidak begitu, dan juga memang begitu. Jadi kedua-duanya. Tidak begitu karena dimensi perjuangan beliau saat ini tidak dapat Anda pahami dan walaupun saya jelaskan-pun tidak akan mudah dipahami umum. Memang begitu, karena ia mengandung makna rohani perjuangan yang begitu besar, yang saya tidak akan paparkan dalam wawancara ini.
SPMNews: Apa yang hendak Anda katakan kepada Tete Nicolaas?
TRPB: Kami sebagai penerus perjuangan yang dicetuskan dan diperjuangkannya seorang diri saja waktu itu hendak mengucapkan “SELAMAT DATANG KE TANAH AIR TERCINTA, Tete Nicolaas Jouwe. Perjuangan yang Tete perjuangkan seorang diri waktu itu, sekarang sudah membuahkan hasil, hampir semua orang Papua mendukung dan berada di barisan yang sama dengan Tete, kecuali orang-orang yang Tete ketemu di Numbay itu, yang mengatas-namakan Tanah dan bangsa mereka, untuk perut dan kepentignan pribadi itu. Ketiga, untuk menuntaskan agenda kami tahun 2000 lalu, kami akan datang dalam waktu dekat untuk bertemu dan bertegur-sapa, semoga pertemuan berikut ini akan semakin memantapkan langkah kami lagi.
Ketiga, kami mohon, Teta Jangan kembali ke tempat pengasingan, tetapi tetap tinggal di Tanah Air Papua Barat, sudah lama masyarakat Kayo Pulo tinggal tanpa Ondofolo mereka, apalagi Indonesia sudah demokratis dan dapat mengizinkan Tete tinggal di sini. Kalau sulit, kami bangsa Papua siap memperjuangkan kepulangan Tete ke Tanah Air, untuk mendoakan dan membangun tanah Papua bersama masyarakat di Kayo Pulo dan sekitarnya. Tanah Papua Menyambut Anda kembali dengan tangan terbuka dan dengan semangat agar Tete tidak kembali ke Negeri Belanda lagi.
SPMNews: Apa yang mau disampaikan kepada bangsa Papua?
TRPB: Sudah banyak kali pertanyaan ini diajukan kepada kami, “Kapan Papua Merdeka?” atau “Tahun berapa Papua Merdeka?” Dan atas pertanyaan ini, selalu saya jawab, “Sama dengan yang dikatakan di dalam Alkitab tentang WAKTU kedatangan Yesus Kristus, kita jangan menantikan dan menghitung-hitung ‘waktu’, tetapi kita harus dengan pandai melihat dan menghitung berbagai peristiwa dan kejadian yang memberi tanda-tanda kepada kita tentang ‘kapan’ Papua Merdeka itu.” Nah, salah satu tanda itu adalah kedatangan tokoh Papua Merdeka, Nicolaas Jouwe, seorang pejuang sendirian di masa sulit, seorang yang tak pernah menghianati dengan tawaran apapun, seorang yang berani mengambil resiko meninggalkan rakyatnya demi pendiriannya, dan seorang yang kembali tanpa merubah prinsip dan pendiriannya.”
Popularity: 2% [?]

Maret 11th, 2010 1:31 am
Silahkan baca komentar Amunggut Tabi, SekJend TRWP dan Forkorus Yaboisembut, Ketua DAP