SERUI [PAPOS]- Pelaksana tugas bupati kabupaten kepulauan Yapen Drs. Decky Nenepat ketika meresmikan pasar tradisional menekankan agar Dinas Koperasi dan UKM serta unit pelaksana teknis pasar agar selektif membagi kios pasar sebanyak 20 unit.
“Orang Papua harus mendapat 10 bangunan kios, dan 10 lagi pedagang non orang papua. Hal ini harus diperhatikan Kadis dan unit pelaksana teknis,” tegasnya.
Penekanan Plt. Bupati tersebut didukung Ketua DPRD Yapen Yotam Ayomi, ia mengemukakan bahwa apa yang diminta Plt. Bupati sangat tepat, dan harus dijalankan oleh unit tertentu khususnya Kepala dinas koperasi dan UKM.
Kenapa dewan sangat mendukung, kata Yotam, bahwa sampai saat ini, kalau kita jalan-jalan dan melihat di pasar inpres Serui, dari sekian banyak orang Papua yang berjualan, satupun mereka tidak memiliki kios.
“Saya sangat prihatin melihat mama-mama orang Papua karena mereka tak satupun memiliki kios”, akunya.
Melihat mereka saya sangat prihatin, dimana kita pu mama-mama dan saudara-saudara berjualan di alam terbuka. Panas terik matahari menerpa mereka saat menjajakan barang jualannya, belum lagi hujan turun dengan semangat mereka tetapi eksis berjualan.
Oleh karena itu, pembangunan los pasar dan 20 unit kios yang bersumber dari dana APBN melalui dana stimulus dari departemen koperasi, menurut Yotam sangat membantu pemerintah daerah dalam memfasilitasi sarana bangunan untuk pasar sebagai ajang transaksi antara penjual dan pembeli.
Tetapi di balik semua itu, Yotam Ayomi berharap pembagian kios pasar harus merata dan memperhatikan mama-mama orang Papua, kemudian penempatan los-los pasar jangan menimbulkan permasalahan, tetapi harus mengurangi beban dan permasalahan para pedagang yang selama ini mereka berjualan di pinggir-pinggir jalan bahkan di depan kaki lima.
“Pengelola pasar dan dinas koperasi harus bijak dan selektif membagi kios dan membagi los-los, harus merata dan lebih memperhatikan mama-mama orang Papua”, katanya.
Jumlah pedagang mama-mama yang berjualan di pasar Inpres Serui semakin bertambah, peningkatan itu terjadi menurut Yotam karena mata pencaharian di daerah lebih banyak nelayan dan kebun dimana mereka sendiri menjual hasil tangkapannya dan hasil kebunnya di pasar.
“ Meningkatnya orang berjualan di pasar adalah hal yang wajar, bagaimana kita kedepan dapat menampung mereka di dalam pasar itu harus di pikirkan pemerintah daerah. Terus terang bangunan los pasar ini daya tampungnya sekitar 80, ini tentu tidak dapat menampung semua pedagang kaki lima bahkan yang berjualan di pinggir jalan,” katanya.
Oleh karena itu, penambahan bangunan los pasar kedepan harus di pikirkan pemerintah daerah melalui dinas koperasi dan UKM. Sehingga lambat-laun semua pedagang sudah tertampung dalam satu tempat, sehingga pembeli lebih cepat ketika berbelanja di pasar.
“Bangunan pasar ini, belum cukup menjangkau mama-mama yang berjualan di pinggir jalan, karena kapasitas mereka lebih besar dibandingkan pasar,” ujarnya.[Cr-53]
Ditulis oleh Cr-53/Papos
Rabu, 10 Maret 2010 00:00
Popularity: unranked [?]
Suara Papua Merdeka, Bersuara Karena & Untuk KEBENARAN!
KotekaWebmater bertugas utama menyiarkan berita perjuangan Papua Merdeka secara Online, sebagai layanan WPNews Group Online Services untuk The Diary of OPM (Online Papua Mouthpiece)
Layanan untuk Sebuah West Papua yang Merdeka dan Berdaulat di Luar NKRI sejak 30 July 2004.